Say What Do You Feel Now!!!

Selasa, 06 November 2012

Love in Paris


'Love In Paris (파리 의 연인)/Cinta Di Paris adalah Korea Selatan televisi drama seri siaran berdasarkan SBS pada musim panas 2004. Acara ini memenangkan berbagai penghargaan termasuk drama televisi terbaik pada Baeksang Arts Awards dan kedua Park Shin-yang dan Kim Jung-eun dianugerahi Grand Prize di SBS Drama Awards.
Ini adalah yang pertama dari tiga drama romantis ditetapkan di Eropa. Drama kedua adalah Love In Praha dan yang ketiga berjudulPecinta.
Kang Tae-young (Kim Jung-eun) adalah putri dari seorang sutradara film dan menjalankan keinginan ayahnya, ia mempelajari film di Paris. Untuk memenuhi kebutuhan dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk Han Ki-Joo (Park Shin-yang) yang dia cintai karena dia dapat menonton film dan minum anggurnya.
Tidak puas dengan pelayanannya, dia kebakaran itu. Namun, ketika ia menyadari bahwa ia berasal dari kota kelahiran yang sama dengan istri seorang mitra bisnis potensial, dia menyewa dia untuk bertindak sebagai tunangannya untuk pemanasan untuk mitra bisnisnya. Dia setuju dengan imbalan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga kembali. Selama dua tanggal yang ia membawanya keluar, ia jatuh cinta dengan dongeng acara. Pada gilirannya ia menemukan dirinya tiba-tiba terpesona oleh dia. Namun, rencana pacar palsu bumerang, dan berpisah baik pada hal yang buruk di Paris. Melalui serangkaian kegiatan dia juga memenuhi Yoon Soo-hyuk (Lee Dong-gun) yang adalah keponakan dari Ki-joo.
Dipanggil dengan ayahnya, Ki-joo kembali ke Korea, dan Tae-young juga kembali untuk menghadiri ulang tahun kematian ayahnya. Keduanya bertemu kembali secara kebetulan di Seoul dan memiliki kesalahpahaman mereka diselesaikan. Dia bersiap untuk kembali ke Paris, tapi menemukan pamannya telah menyia-nyiakan diri rumah keluarganya dan lari, meninggalkan dia dengan sepupunya yang masih muda dan utang akibat yang ditimbulkannya.
Ketika mencoba untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarganya dan mengambil kamera ayahnya yang disita oleh kreditur, dia bertemu Ki-joo lagi. Melalui pertemuan kebetulan ganda, dia menemukan dirinya tertarik padanya. Soo-hyuk juga kembali ke Korea untuk melacak Tae-young bawah. Dia tinggal di rumahnya dan mencoba untuk memenangkan hatinya. Tapi dia hancur ketika ia menyadari bahwa pamannya juga bersaing untuk kasih sayang.
Situasi ini semakin rumit dengan pengenalan bulan Yoon Ah, putri seorang politisi berpengaruh yang ayah Ki-joo telah dipilih untuk menjadi istri Ki-joo itu. Dia juga terjadi menjadi teman sekelas Tae-Young di sekolah tinggi dan bertekad untuk menang Ki-joo sebagai suaminya.
Ki-joo dan Tae-young membuka hati mereka satu sama lain. Namun Yoon Ah licik dan plot Soo-hyuk terluka secara emosional untuk membaginya. Sementara itu, Direktur GD Motors mencoba untuk membawa Ki-joo bawah dan dibuat skema dengan Soo-hyuk menumpahkan desain mobil terbaru untuk saingan GD Motors. Mobil baru diumumkan dan GD Motors membatu oleh fakta bahwa desain terbaru dicuri. Kemudian, Ki-joo angka bahwa Soo-hyuk melakukan ini, tapi mengampuni dia. Fakta bahwa Ki-joo memaafkannya begitu mudah mendorong Soo-hyuk gila. Setelah masuk ke sebuah kecelakaan mobil saat menyala melalui jalan-jalan untuk mencoba untuk menghapus kesalahannya, ia mendapat amnesia dan kehilangan kenangan baru-baru ini. (Dia hanya berpura-pura dia amnesia membiarkan Tae-young bersama Ki-joo.) Yoon Ah memutuskan untuk melepaskan Ki-joo dan melemparkan cincin pertunangannya ke Han-River.
Ki-joo dan Tae-young akhirnya bisa bertemu. Sayangnya karena tidak menyukai keluarga nya 'untuknya, mereka memutuskan untuk dipisahkan sementara. Dia kembali ke Paris dan dia tinggal di Korea. Setelah 2 tahun, mobil baru diumumkan dan sukses. Ki-joo, segera menangkap penerbangan ke Paris. Untuk beberapa waktu, mereka tidak tahu di mana satu sama lain adalah.
Kemudian suatu hari, sama seperti seri dimulai, Ki-joo melempar koin ke air mancur dan ingin bertemu Tae-young lagi. Saat ia berbalik dia melihat berdiri di sana. Adegan berikutnya menunjukkan mereka duduk di tepi sungai. Tae-young memecah keheningan dan bertanya, "Jika kami tidak bertemu di Paris, apakah Anda pikir kami masih akan berakhir bersama-sama?" Ki-joo jawaban, "Kemungkinan besar kita akan memiliki."
pemain :

About Winter Sonata

Winter Sonata (Winter Ballad/Winter Love Storybahasa Korea겨울연가) adalah seri kedua dari drama serial Endless Love produksiKBS. Serial ini diproduksi Maret 2002 di Korea Selatan. Di Jepang, drama ini ditayangkan NHK dari April hingga September 2003, dan menandai dimulainya gelombang Korea di Jepang dan seluruh Asia. Dalam bahasa Jepang, judul drama ini ditulis sebagai Fuyu no Sonata (冬のソナタ?), 冬日戀歌 (Dōngrì Liàn'gē) atau 冬季戀歌 (Dōngjì Liàn'gē) dalam bahasa Mandarin, dan Bản tình ca mùa Đôngdalam bahasa Vietnam.

Cerita dimulai ketika Joon-sang, putra seorang musikus terkenal, pindah ke Chuncheon, kota kecil di Korea Selatan. Sebagai murid berbakat, Joon-sang yang pendiam disukai teman-teman dan para guru. Joon-sang percaya tiada seorangpun yang benar-benar mencintainya karena ia percaya ayahnya sudah meninggal setelah bertengkar dengan ibunya.
Pada suatu hari, Joon-sang bertemu rekan sekelas bernama Yu-jin, dan mereka jatuh cinta. Namun hubungan mereka tidak berlangsung lama. Joon-sang menjadi korban kecelakaan lalu lintas hingga menderita amnesia akibat kerusakan otak.
Ibu Joon-sang ingin mengembalikan rasa hormat sang putra terhadap dirinya. Seorang psikolog dimintanya untuk mencuci ingatan Joon-sang. Semua ingatan Joon-sang ketika dibesarkan sebagai anak tidak sah menjadi terlupakan. Bersama sang ibu, Joon-sang kemudian pindah ke Amerika Serikat. Di sana, Joon-sang memakai identitas baru sebagai Li Min-hyung. Sementara itu kepada semua teman-teman dan guru, Joon-sang dikabarkan meninggal dunia.
Sepuluh tahun berlalu, Joon-sang telah menjadi arsitek pemenang penghargaan di Amerika Serikat. Ia sudah tidak ingat lagi semua pengalaman hidupnya di Korea. Joon-sang telah menjadi orang yang berbeda, seorang berhati terbuka yang peduli terhadap orang lain, termasuk terhadap ibunya. Ia kembali ke Korea dan Yu-jin kebetulan melihatnya di sebuah jalan. Yu-jin sudah menjadi seorang desainer interior. Ia teringat masa-masa indah bersama Joon-sang hingga membatalkan pertunangan dengan Sang-hyuk yang sahabatnya sejak masih kanak-kanak. Yu-jin tidak tahu Joon-sang sudah berpacaran dengan teman sekaligus saingannya, Chelin. Yu-jin mulai bekerja di kantor arsitek tempat Joon-sang juga bekerja, dan ingin tahu apakah Joon-sang masih mengingatnya.
  • Bae Yong Joon sebagai Kang Joon Sang / Lee Min Hyung
  • Choi Ji Woo sebagai Jung Yu-jin
  • Park Yong Ha sebagai Kim Sang-Hyuk
  • Park Sol Mi sebagai Oh Che-lin
  • Lee Hye Eun sebagai Jin Suk
  • Ryu Seung Soo sebagai Yong Kuk
  • Jung Dong Hwan sebagai ayah Sang Hyuk
  • Lee Hyo Chun sebagai ibu Sang Hyuk
  • Yoo Yul sebagai penyiar radio
  • Kim Hae Sook sebagai ibu Yu-jin
  • Lee Hye Young
  • Kwon Hye Hyo
  • Jung Woon Joong
  • Jang Hang Sun
  • soundtrack :
  • 처음부터 지금까지 Cheoeumbuteo Jigeumkkaji (From the Beginning Until Now) oleh Ryu (류)
  • "My Memory" oleh Ryu
  • 처음 Cheoeum (First Time)
  • 그대만이 Geudaeman'i (Only You) oleh Ryu
  • 처음부터 지금까지 Cheoeumbuteo Jigeumkkaji (From the Beginning Until Now), versi instrumental
  • "My Memory", versi piano dan biola
  • 보낼 수 없는 사랑 Ponael Su Eobsneun Sarang (The Love I Can Not Send) oleh Seon (선)
  • 시작 Shijak (The Beginning)
  • 그대만이 Geudaeman'i (Only You), versi piano dan biola
  • "My Memory", versi piano
  • 잊지마 Itjima (Don't Forget) oleh Ryu
  • 기억속으로 Gieoksog'euro (Inside the Memories)
  • 연인 Yeon'in (Lover) oleh Ryu
  • 제비꽃 Jebikkoch (Violet) oleh Ryu
  • 그대만이 Geudaeman'i (Only You), versi piano
  • 처음 Cheoeum (First Time), versi piano
  • 제비꽃 Jebikkoch (Violet), instrumental

Kesungguhan Dari Kesetiaan


Prolog

Jika hidup ini terasa berat
Aku tak ingin memikulnya
Tapi aku ingin dan akan menerbangkannya
            Jika aku tak sanggup
            Atau aku tak terlalu tinggi
            Maka aku ingin seseorang yang membantuku menerbangkannya
Jika masih tidak bisa juga
Akan kuhanyutkan bersama tetesan air di dalam doa


            Untuk mengetahui sebuah rahasia itu seperti mengerjakan soal fisika, tepatnya lagi matematika. Menggali rahasia bagaikan melanjutkan langkah dari rumus yang ada. Semakin tahu, maka semakin rasa ingin terus menggalinya. Hingga pori-pori berkeringat, hingga otak terus dipaksa untuk tak henti berputar. Menemukan kunci rahasia seperti telah menyelesaikan soalnya. Tinggal, apakah benar atau salah soal yang telah kita kerjakan. Jika salah, hati terasa kecewa yang berarti bahwa rahasia itu menyakitkan. Jika benar, maka hati terasa gembira yang berarti bahwa rahasia itu menakjubkan.
            Tapi, aku tak peduli dan aku tak ingin peduli apakah soalku benar atau salah, rahasia itu pahit atau manis. Yang akan kulakukan setelahnya adalah bersyukur dan berterima kasih kepada tuhanku atas segala nikmat yang telah Dia berikan. Nikmat semangat untuk terus mencoba, nikmat pengetahuan untuk terus melanjutkan langkah dari rumus, nikmat penglihataan untuk menelaah apa yang sebenarnya terjadi dan nikmat asa atas apa yang kurasa. Meski terasa pahit, tapi aku yakin, aku senang. Sebab aku tahu dan tidak hidup dalam kebohongan.


            Meninggalkan atau lebih tepatnya lagi ditinggalkan adalah dua kejadian yang sedikit berbeda dengan rasa yang sama. Rasa hancur, sakit dan kecewa terluapkan dalam kesedihan dan tangisan. Apakah itu jalan keluar? Jelas bukan, namun setidaknya asa emosional yang terpendam sedikitnya dapat terluapkan. Menangis? Apakah sesedih itu? Apakah dia sangat berharga? Sebenarnya, kalau difkir-fikir sih, tidak begitu sedih juga dia tidak begitu berharga. Namun, pada saat itu kesedihan menguasai hati dari segala rasa senang yang pernah ada. Terlihat bodoh sekali. Dunia terasa sempit bagai daun kelor. Pekerjaan yang ada di bumi ini sepertinya hanya bernafas, menangis, melamun dan memeikirkan dia. Tidak ada waktu untuk mengerjakan hal lainnya. Diibaratkan sebagai penyakit, mungkin sudah akut dan tak ada harapan untuk hidup lagi.
            “Kalau kamu jadi pergi ninggalin aku, aku akan terus nungguin kamu sampe kapanpun.” Perkataan yang tak mungkin bisa kulupakan, sebab kalimat itu selalu terngiang di telingaku selama nafas selalu berhembus.
            “Masak sih? Apa yang gak mungkin terjadi di bumi ini? Perasaan sewaktu-waktu bisa berubah, Ram. Apalagi, kalau nanti aku benar-benar bakalan ninggalin kamu. Gak ada yang tahu dan juga gak ada yang bisa melarang. Termasuk aku, aku gak bisa berbuat apa-apa seandainya hal itu terjadi.” Rasanya, sangat tidak mungkin. Kepercayaanku padanya pun tak timbul sebegitu mudahnya. Kalau wanita mungkin bisa untuk setia, karena mereka mementingkan perasaan dan emosional dibangdingkan ara lelaki yang mudah saja melakukan apa yang ia mau dengan fikiran dan kelogisan.
            Janji bukan jaminan, bukan kalimat yang bisa membuatku terbang melayang. Tapi, aku wanita yang membutuhkan kesungguhan. Jikalau dia tak berkata seperti itu sebelum aku pergi, sungguh aku tak mengapa.
            “Percaya deh, aku janji kok.”
            “Aku percaya kamu bisa untuk saat ini, tapi aku gak bisa percaya untuk ke depannya.”
            “Kapan sih aku pernah bohong sama kamu?”
            “Kapan? Kalau soal itu aku gak tahu, urusan hablumminallah dan hablumminannas biarlah jadi rahasia masing-masing. Sekarang, gini aja deh. Kalau aku kasih kepercayaanku sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?” bukan maksudku untuk mengintrogasi atau sok acuh terhadap masalah ini. Aku ini wanita sensitif dengan soal perasaan, makanya aku sangat berhati-hati.
            “Aku akan setia sama kamu, aku akan nunggu kamu sampe kamu kembali lagi.”
            “Kalau aku pulang dua puluh tahun ke depan, apa kamu terus nunggu aku?”
            “Mmm..” nampaknya dia bingung dan tengah berfikir. “Iya, aku akan terus nunggu kamu.”
            “Terus, kalau ternyata aku gak akan balik lagi. Gimana?”
            “Mm..” kedua kalinya ia berfikir. “Kok kamu ngomongnya gitu sih?” dia bangkit di tengah duduknya. “Apa kamu mau mutusin hubungan kita sampai disini?”
            “Hubungan? Tuhan akan memutuskan nikmatku bila aku melakukannya, Ram. Ambil kembali janjimu. Aku hanya butuh kesungguhan.” aku rasa dua kalimatku terakhir bisa membuatnya mengerti. “Sebentar lagi, pesawatnya akan berangkat. Jaga dirimu baik-baik, Ram. Assalamu’alaikum.” Perlahan aku melangkah menjauh.
            “Wa’alaikum salam.” Dia masih termenung menunduk. “Aku akan jaga diriku baik-baik. Cepatlah kembali dan temui aku, Al!!” serunya setelah aku mulai memasuki pesawat. Kulambaikan tanganku dari balik jendela. Tergores seberkas senyum di wajahnya. Buktikan kesungguhanmu saat aku jauh disana.

*******

            Aku terus berfikir, bagaimana nian cara untuk membuktikan kesetiaanku pada Alya. Dua puluh tahun? Atau tidak sama sekali. Lalu bagaimana nasibku? “Wanita itu, sungguh mengagumkan.”
            “Ram, gimana Alya?” untung saja ada Radi, setidaknya aku data bertukar pikiran.
            “Alya udah berangkat.”
            “Jangan murung-murunglah.”
            “Gimana gak murung? Dia memang mengagumkan, gak ada duanya. Gue bilang gue bakalan nungguin dia sampe dia balik.”
            “Terus? Dia senyum? Apa responnya?”
            “Iya, dia senyum dan bilang gue disuruh ambil janji gue dan ngasih gue pertanyaan yang cukup bikin kepala dan hati gue saling bertolak belakang. Dia cuma butuh kesungguhan gue.”
            “Loe bilang apa?”
            “Gue coba.”
            “Semoga berhasil, sob.” Tepukan keras mendarat dipundakku.
Detik berjalan menit, menit berjalan jam, jam berjalan hari dan seterusnya. Kurang lebih sudah tiga bulan sejak Alya pergi, namun rasanya sudah setahun. Fikiranku untuk membuktikannya pun tak  pernah henti. Cepatlah kembali, Al..
“Daripada loe masih mikirin Alya yang gak tau juga kejelasannya, mendingan loe ikut gue. Gue kenalin sama ukhti yang lain. Lebih cantik dan lebih baik daripada Alya.”
“Gak deh. Gue masih ada tugas.”
“Tugas? Tugas apaan? Tugas buat ngebuktiin kesungguhan loe? Hari gini masih ngandelin kesetiaan? Gak jamannya lagi, kita tuh laki, ada gak sih cowok digantungin cewek?!”
Hatiku semakin gundah gulana, sebagian ruang dihatiku setuju dan sebagian lagi menolaknya mentah-mentah. Batinku terus bergulat dengan nafsu dan ajakan Radi. Apalagi semenjak saat itu, aku lebih menutup diriku untuk lebih dekat berteman dengan kawan perempuan. Terkadang aku berfikir tentang perkataannya waktu itu. Menutup atau tepatnya mengurung diri dengan melakukan hal positif dan banyak belajar untuk semester akhir. Tuhan, angin, matahari, bintang dan bulan.. jadilah saksi untuk penantian.
Wisuda dan kerja menjadi fikiranku yang kedua. Mencari tempat sesuai jurusan dan keterampilan. Alhamdulillah, aku mendapatkannya. Guru di salah satu sekolah Islam Terpadu. Mengajar sambil menatapi mereka belajar, rasanya aku ingin cepat meneruskan masa depan. Kubuka tanggalan kecil, tak terasa sudah lima tahun berpisah dengan Alya. Namun, menakjubkan aku bisa menepati janjiku padanya. Masihkah lama waktuku untuk menanti, Tuhan?
Saatnya kembali. Assalamu’alaikum Indonesia.
Kulihat tulisan terakhirnya di hari ini. Hatiku membuncah, rasaku baru saja aku mengeluh. Namun, Allah tak membiarkan aku terus sedih. Kapan di sampai? Terus kubaca komentarnya dan aku dapatkan. Aku pergi secepat yang kubisa untuk tak terlambat menjemputnya di bandara. Aku ingin menjadi orang ertama yang menyambut kembali kedatangannya. Dapat dibilang juga aku telah melanggar tata lalu lintas, tapi tolong ini sekali saja kulakukan. Kuparkirkan mobil dan langsung berlari mencari-cari di tengah keramaian orang berlalu-lalang. Hingga akhirnya tepat di depan pandangan mata, Alya kembali lagi.     “Al..” ada seorang laki-laki menghampirinya. “..ya.” Aku tak bisa berfikir apa-apa, semuanya kosong. Untuk berkata pun aku tak bisa. Yang jelas aku kecewa. Kutinggalkan dia dari pandanganku. Segera aku pergi dan untuk yang kedua kalinya aku melanggar lalu lintas. Turun di pinggiran jalan dan meutup mobil sekerasnya.
“Tuhan!!! Mengapa kau biarkan aku kecewa? Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghadapi ujian seberat ini. Aku berusaha meneati janjiku padanya. Tapi inikah balasan yang telah Kau takdirkan untukku? Alya!!!!!”

*******

Apa kamu masih nunggu aku, Ram?  Kalimat dari mimpiku semalam. Rasanya hatiku semakin tak kuat bila aku tak bertindak apa-apa. Kuarahkan mobilku ke tempat itu. Bila saja Alya datang kesana.
Aku terus duduk dan sepulangan Alya pun aku terus menanti. Sampai aku teringat ucaannya ‘apa yang tidak mungkin. Perasaan bisa berubah sewaktu-waktu’.
“Apakah perasaannya juga sudah berubah terhadapku?”
“Tidak semudah itu, Ram. Wanita itu lebih mementingkan perasaan dari kelogisan pikiran. Apa kamu sudah membuktikan kesungguhanmu?” dia datang dan menjawab pertanyaanku.
Kubuka dompetku dan memberikan kartu identitasku. “Untuk apa?”
“Lihat, statusnya. Sampai sekarang aku terus menunggu. Aku berusaha menepati kesungguhan dan janjiku. Tapi alangkah disayangkan, ternyata penantianku ini sia-sia saja.” Kuambil lagi kertu identitasku.
“Maksud kamu apa, Ram?”
“Alya!” seru seseorang dari dalam. Dan aku ingat, dia yang mebuat aku kecewa.
“Aku rasa sudah jelas, Al. Perkataanmu benar, apa yang tidak mungkin dan perasaan seseorang dapat berubah. Maka tak ada lagi yang dapat aku lakukan. Terima kasih karena kamu sudah mengajarkan bagaimana caranya untuk menjadi laki-laki sejati dengan kesungguhan. Bukan sekadar janji.” Aku berdiri dan melangkah pergi. Kuhentikan saja semuanya, daripada aku semakin menderita.
“Dia sepupuku, Ram. Hanya untuk beberapa waktu tinggal dirumahku. Aku pun berterima kasih atas kesungguhanmu. Tapi, aku tetap wanita, mengutamakan perasaan.”




Minggu, 30 September 2012

bunga kirana


Bunga Kirana


            Bunga. Saat satu kata itu meluncur ke pendengaranmu, apakah yang saat itu terlintas dalam benak? Penghias taman, pasti itu yang sering terlalu saat sebuah kata itu terlontar. Namun, bunga itu tak hanya sebagai penghias taman, tetapi bunga juga dapat dijadikan cermin kehidupan dan perasaan seseorang. Seperti bunga Mawar. Setiap wanita akan merasa tersanjung dan merekah hatinya kala seorang lelaki memberinya Mawar. Sekalipun hanya setangkai Mawar. Sebab, Mawar disini sebagai ungkapan dari sebuah perasaan. Namun apa jadinya jika tak satupun bunga disukai seorang wanita? Asing dan menakutkan. Bahkan menjadi suatu hal yang paling dibenci?

Lapangan basket SMA PERTIWI
            Berpasang-pasang mata menyipit oleh sinar mentari pagi. Berapat-rapat orang berdiri. Beramai-ramai orang bersorak melihat aksi Rana si Kapten Basket Putri dalam permainannya kali ini.
            “Go Rana, go Rana, go!” melengking suara supporter basket dari garis luar lapangan. Semuanya mendukung Rana. Padahal kemenangan datang dari kekompakkan tim, bukan dari aksi Rana seorang.
            “Oper, Ka.” Seru Rana saat Rika membagi bola kepada Maya yang menanti operan bola.
            “Yah..” ketegangan penonton berubah menjadi kekecewaan penonton. Masing-masing bahu dari mereka membungkuk saat bola tak tepat sasaran dan melambung keluar lapangan. Berhenti tepat di bawah kaki Rafi yang sedang melangkah membawa mikroskop.
            “Thanks.” Keningnya berkerut melihat dalam-dalam ke arah tulisan nama di seragam. Gaya santai yang menjadi ciri khasnya dalam berbicara melukiskannya sebagai anak gaul. “Rafi.” Terheran lelaki itu melihat mata Rana. Bola matanya ikut melihat ke mana bola mata Rana menuju.
            “Sama-sama, Ran.” Ucapnya lebih santai dan sederhana. Keheranan Rafi sekejap berpindah ke Rana. Seragam tim basketnya yang tak memiliki tulisan nama mereka selain di punggung. Lantas, dari manakah Rafi mengetahui namanya.
            “Lho? Kok bisa tahu?” mengoper bola dari tangan kanan ke tangan kiri. Jarinya menunjuk. Membelah udara di sekitarnya. Bola matanya melirik ke atas seolah bertanya.
            “Siapa yang gak tahu sama kapten basket yang …” lagi-lagi sorakan supporter yang melengking bagaikan gesekkan dua buah besi dengan kecepatan gravitasi yang besar, memotong pembicaraan mereka. Mengilukan telinga. Sekejap itulah Rana meninggalkan Rafi. “… gak suka bunga.” Melanjutkan kalimatnya dan tersenyum.
            “Kepotong ya, Sob?” ujar Rama menepuk bahu Rafi dari belakang. “Dasar! Ketua KIR payah. Soal IPA dan keilmiahan, loe memang menang dari gue. Tapi soal cinta. Hem. Belum tentu loe yang menang. Nih, gue si Pendekar Cinta.” Tangannya yang semula terlipat di atas dada, terkepal kuat menepuk dada sebelah kirinya.
            “Ah resek, loe.” Menyingkirkan tangan Rama yang menepel di bahunya. Berjalan terus menuju lab.
            “Tapi bener, kan?” menghadang langkah Rafi.
            “Nggak!” berjalan melalui sisi samping. Seperti mobil sedan yang berusaha memotong jalan bus besa lewat sisi kanan jalan tol.
            “Buktiin! Loe pasti kalah dari gue. Haha..” ledeknya meremehkan.
            “Sip. Gue buktiin.” Untuk yang kedua kalinya ia mendahului lewat lajur kanan.
            Prok prok prok. Tepukan tangan memeriahkan akhir dari pertandingan serta kemenangan tim Rana.
            “Sukses, Bo!!” mengangkat tangannya setinggi bahu. Membiarkan jemarinya berkeliaran bebas meloncati udara.
            “Iyalah. Siapa dulu?” sahut Rika menyambut kemenangan mereka.
            “The Sweetest Team.” Sorak sorai sambil meloncat di tengah keramaian lapangan basket. Meninggalkan keramaian menuju loker ganti.
            “Ran, tadi loe ngomong apa aja sama Rafi?” tanya Maya serius. Raut wajahnya tak terdapat sedikit pun titik senyum. Matanya menatap dalam-dalam wajah Rana yang sedang membuka loker. Seperti hantu, seram.
            “Nggak ngomong apa-apa.” Seperti biasa, gaya santainya sambil menutup dan mengunci pintu lokernya.
            “Bohong! Loe suka sama Rafi, kan?” menjatuhkan tangan Rana yang sedang memutar anak kunci.
            “Apaan sih, May? Gue Cuma bilang makasih. Terus dia …” matanya menatap ke langit-langit ruangan.
            “Dia kenapa?” menjatuhkan posisi tegaknya. Bersandar dengan loker yang berdiri tegak.
            “Dia tahu nama gue, May. Padahal, nama kita kan Cuma ada di punggung. Ini nih di punggung.” Menunjukkan namanya di seragam yang telah ia lepaskan sdari tadi.
            “Jangan coba-coba loe rebut Rafi dari gue!” bangkit ia dari duduknya. Jemarinya mengarah ke hadapan wajah Rana yang sedikit terkejut.
            “May, loe kenapa? Loe suka sama Rafi? Ambil aja sana. Lagian gue juga gak suka sama dia. Ambil sana. Ambil.” Emosionalnya meledak. Tangannya menyingkirkan segala udara yang ada di sekitar. Mengusir dari tempatnya.
            “Gue pegang omongan loe.” Sahut Maya meninggalkan Rana. Rana terdiam terpaku atas sikap Maya. Berbalik arah melihat sahabatnya yang marah tak teredam. Baru kali ini ia marah seperti itu, hanya karena seorang lelaki.
            Ada kerikil di anatara persahabatan kami. Ucapnya dalam hati. Berjalan meuju ruangan kelas.
            “Rana! Tunggu.” Panggil Rama dari lab IPA. Melambaikan tangannya ke atas. Masih dengan kebingungan atas sikap Maya. Ia bejalan tanpa menghiraukan siapa yang memanggil.
            “Kenapa lagi?” langkahnya terhenti. Alisnya naik. Bosen melihat batang hidung Rama yang sedari SMP selalu sekelas. Tak pernah tak terlihat walau hanya satu hari. Bersahabat dari SMP. Persahabatan yang lebih dari sekadar dekat.
            “Wak elah. Sensi amat. Congrate ya atas kemenangan tim basket loe. Ditunggu nih traktirannya. Hoy! Gue lagi ngomong ini, Ran.” Jemarinya terbuka lebar. Bergerak ke kiri dan kanan. Sedang yang sebelah kiri, menunjuk ke wajahnya sendiri. Meneliti arah pandangan Rana yang sedang celingak-celinguk ke dalam lab. Tepatnya ke arah Rafi. “Loe lihat apa?” memutar posisi badannya. Melihat apa yang Rana lihat. “Rafi itu Ketua KIR.” Melanjutkan kalimatnya.
            “Oh.. tapi sayang. Gue gak tertarik.”
            “Bener, Ran? Asik.” Tangannya mengepal. Mendorong angin untuk lebih cepat bergerak ke depan dan belakang.
            “Loe kenapa, Ram? Kayak kucing dapat tulang ikan.” Ucapnya geli melihat tingkah Rama.
            “Ssst!!!” raut wajah anggota KIR yang marah atas obrolan mereka. Rama melepaskan spidolnya dan membiarkan buku terjepit di telapak dan jemari tangan kirinya.  Dengan mengapit buku berjudul Bunga dan Serangga, Pak Ketua izin keluar ruangan pada anggota didik.
            “Maaf, kalau kalian ingin ngobrol, di tempat lain saja. Kami masih ada materi.” Menaikkan bukunya, memperlihatkan bukti, bahwa masih banyak materi yang harus mereka pelajari.
            “Ah.. buku. Buku.” Wajahnya pucat. Secepat kilat ia berlari meninggalkan dua orang itu.
            “Dia kenapa?” Rafi tercengang ketika melihat preman sekolah lari terbirit-birit.
            “Wah, loe, Raf. Keterlaluan loe. Loe kan tahu, dia gak suka bunga. Gak asik, ah.” Mendorong bahu Rafi.
            “Buku?” melihat sampul buku yang ia pegang. “Ya ampun, gue lupa. Dia kan gak suka sama bunga.” Menatap Rama yang ikutan lari mengejar Rana.

Esok pagi…
            “Rana!” seru Rafi menyelaraskan langkahnya.
            “Loe gak bawa hal-hal yang berhubungan dengan ‘itu lagi’, kan?” tanyanya takut-takut.
            “Oh, iya. Maaf yang kemarin. Gue lupa. Kalau elo gak suka bunga.”
            “Ah…” merintih ia.
            “Ran! Loe gak papa, kan?!” menegakkan posisi Rana. “Maaf sebelumnya, tapi gue pingin tahu kenapa loe takut sama…” menggerakkan alisnya. Menunjukkan bahwa kata itu adalah kata yang membuat Rana merasa takut.
            “Dulu.. waktu Mama sakit, Mama minta bunga Anggrek. Gue dan Papa gak tahu apa alasan Mama meminta bunga Anggrek. Karena, keadaannya makin kritis, Papa langsung datengin semua took bunga yang ada di sekitar rumah sakit.”
            “Terus? Dapet?”
            “Iya, ada bunganya. Tapi.. sayang, saat bunga Anggrek itu ada di tangan Papa, saat itu juga gue lihat bunga itu jatuh bersamaan darah Papa.”
            “Maksud loe?”
            “Papa, ketabrak. Tepat saat adik gue ngasih kabar bahwa Mama gak bisa lagi ditolong. Sejak itu, gue benci sama bunga, terutama Anggrek.” Membiarkan Rana bersandar dengan bahunya sebagai tumpuan. Ia rangkul bahu Rana. “Seandainya gak ada permintaan untuk beli Anggrek itu, seenggaknya masih ada Papa sekarang.”
            “Heh! Lancang loe. Ngingetin Rana tentang kejadian itu. Gue aja temennya dari kecil, gak pernah ungkit kejadian itu. Kurang ajar, loe, Raf.” Rama menarik dasi Rafi dan mengepalkan tangannya, bersiap meluncurkan sebuah pukulan keras. Sedangkan, Maya menarik tangan Rana, memisahkannya dari pundak Rafi.
            “Gue bilang juga apa?! Loe suka sama Rafi.” Pipi Rana memerah.
            “May, jangan!” tangan Rafi menghela Maya dan tangannya. Ia masih berada id cengkeraman Rama.
            “Rama, jangan!” berusaha melepas dirinya dari Maya. Rana terhempas jatuh setelah kepalan sohib kecilnya mengenai wajahnya yang tengah melindungi Rafi. Cengkeramannya terlepas.
            “Rana!” menepuk pipinya. Menyadarkannya dari pingsan. “Ran, sadar.” Berbaring lemah ia di klinik kecil. Diambil sehelai kain yang terlipat. Dicelupkannya ke air untuk mengompres bekas pukulan Rama.
            “Ram, loe diam aja lihat mereka berdua? Gue tahu loe juga suka sama Rana. Kita harus kerjasama untuk misahin mereka.” Ucapannya membuat emosi Rama menggelegar.
            “Eh, May. Loe tuh mikir donk. Seagresif ini jadi cewek. Pantes kalo Rafi gak mau sama loe. Gue gak mau terima tawaran loe. Gue lebih seneng lihat mereka berdua, daripada gue lihat Rana sedih. Karena, mereka saling suka.”
            “Pengecut.”
            “May, kita harus dewasa. Mereka salaing suka, kita gak boleh misahin mereka.”
            “Hah!” tangannya mengobrak-abrik angin.
            Rafi terlehit menyudahi merawat Rana. Ia sedang melukis setangkai bunga yang dipegang oleh seorang wanita. Terhenti jemarinya yang elok melukis, saat suara rintihan mulai terdengar.
            “Syuku, deh, kalau udah sadar.” Rana terpelanga melihat lukisan di helai kertas.
            “Ini buat aku?” mengambil secarik kertas di tangannya.langsung memeluk Rafi erat. Rafi tersenyum kala menyadari Rana tak lagi takut dengan… BUNGA.


SELESAI

Rianti


Rianti
Kawat Lurus Bagai Duri


            Rasanya pasti seru jika kita memiliki sohib lengket seperti amplop dengan perangko. Melewati har-hari dengan kebersamaan, saling melengkapi. Kalau sebelumnya hidup kita hanya berwarna hitam dan putih ukuran tiga kali empat, sejak ada sohib pasti akan berubah menjadi warna ukuran close up. Juga kalau sebelumnya hidup kita hanya berwarna hitam dan putih, maka dengan adanya sahabat hidup seperti pelangi.
            Namun apa jadinya bila sebuah kepercayaan seorang sahabat terkhianati? Bagikan meniup balon, kemudian pecah karena ditusuk jarum dalam sekedipan mata. Atau lebih tepatnya lagi memberikan kebahagiaan kita untuk dia. Membiarkan dia membawa pergi. Merelakan kebahgiaan untuk kebahagiaan.
            “Ri, maafin aku, ya? kemarin aku udah marah-marah sama kamu.” Ucapnya sambil menggenggam tangan Rianti.
            “Nggak papa. Aku ngerti. Kamu gak usah banyak mikiran masalah kemarin. Nanti kepala kamu sakit lagi. Aku gak mau kamu kenapa-napa.” Ujarnya menenangkan Meydi. Menyambut genggamannya. Sambil menatap takut mata Yuda yang sedang berdiri di samping Meydi.
           
Baru saja lusa kemarin aku menerima Yuda lebih dari sekadar sahabat. Aku tak tahu jika Meydi juga menaruh harapan padanya. Sampai kutahu hal ini dari Rena. Sekejap itu, Meydi mengesampingkan janji persahabatan kami.
“Rianti. Kamu tuh sahabatku atau musuhku sih?! Kamu gak kurang-kurang dari pengkhianat.” Menghempas bahuku. Ia lose controlled. Bukan rasa takut ia akan benci padaku, namun rasa takut penyakitnya timbul di sekolah. Papa dan Mamanya telah menitipkan Meydi padaku. Untuk itu, aku harus selalu menjaga Meydi. Dan sejak saat itu pula, kesabaranku harus selalu dilatih.
Orangtua Meydi tak pernah memberitahu apa penyakitnya. Ia takut aku kelepasan dan rahasia mereka akan terbongkar. Namun mereka hanya bilang, bahwa Meydi bisa saja lupa akan suatu hal dan lepas emosi. Teringat aku akan pesan mereka saat Meydi marah kepadaku.
“Mey, aku minta kamu tenang. Aku akan jelasin semuanya. Aku dan Yuda gak ada hubungan apa-apa, hanya teman. Seperti aku dan kamu.” Kupegang bahunya.
“Ri!” panggil Yuda kecewa atas jawabanku. Meninggalkan aku dan Meydi. Namun, apapun yang terjadi aku harus ada di samping Meydi.
“Serius, Ri? Kamu nggak lagi bohongin aku, kan?” emosinya mereda. Aku tak ingin mengingkari janjiku padanya dan janjiku kepada orangtuanya.
“Mm.” menganggukkan kepala. “Kayaknya kamu kurang sehat deh. Pucat, Mey. Kita ke UKS aja, ya?” kuantar Meydi ke UKS. Ia merintih kesakitan. Semakin tak ingin kumengecewakannya. Pingsan di hadapanku. Fikiranku kosong. Aku bingung, apa yang harus kulakukan. Tak tega melihatnya hidup dalam angan dan khayalannya sendiri. Serta dalam kebohongan aku dan Yuda. Di satu sisi aku harus menemaninya, di sisi lain aku harus member penjelasan kepada Yuda.
“Ri, aku minta maaf gara-gara aku, Meydi jadi kayak gini.” Ujar Rena membangunkanku dari lamunan.
“Nggak kok. Ini bukan salah kamu. Ini salah aku, coba aja kalau aku tahu Meydi suka sama Yuda, aku gak akan biarin ada hubungan antara aku sama Yuda.” Mencoba untuk menguatkan diriku sendiri.
            “Aku bangga punya teman kayak kamu. Udah baik, rela untuk mengorbankan diri sendiri lagi. Terus berjuang, ya, Ri.” Menepuk bahuku. Aku terdiam tercengang. “Aku tahu sekarang kamu lagi bunging banget, kan? Mendingan kamu temuin Yuda untuk jelasin semuanya.”
            “Meydi?” fikirku dua kali sebelum aku pergi meninggalkannya.
            “Meydi biar aku aja. Hitung-hitung untuk memperbaiki kesalahanku. Sudah pergi sana. Selesaikan semuanya.” Aku berjalan keluar. Mencari sosok Yuda, ternyata ia sedang menghampiriku.
            “Tolong jelasin maksud kamu kalau kita itu hanya teman.” Memegang pundakku erat sekali. Aku takut.
            “Sebelum kami bersahabat, Mama dan Papa Meydi berpesan padaku untuk menjaga Meydi di sekolah dari penyakitnya. Mereka tak membertahuku penyakit apa yang diidap Meydi. Mereka hanya bilang, bahwa sewaktu-waktu Meydi bisa lupa akan suatu hal dan lepas emosi. Untuk itu, aku bilang kalu kita hanya teman. Aku nggak mau Meydi tambah sakit seperti sekarang ini. Dia terbaring pingsan di UKS, Yud.”
            “Rianti, hubungannya sama kita apa?” tatapannya semakin dalam. Genggamannya semakin erat.
            “Kenapa kamu gak ngerti juga sih? Aku bingung, harus jelasin gimana lagi biar kamu ngerti.” Kutundukkan kepalaku.
            “Yaudah.” Melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkanku yang sedang berdiri terpaku. Hatiku perih. Tak tahan aku.
            “Meydi itu suka sama kamu, Yuda!” teriakku tak tahan lagi. Menangis aku.
            “Apa?” berbalik arah. Menghampiriku lagi. Tatapannya semakin dalam ke dalam mataku. “Apa kamu bilang?” mengangkat wajahku.
            “Meydi suka sama kamu. Dan aku baru tahu itu.” Air mataku jatuh ditarik gravitasi.
            “Maksud kamu?” melepaskan genggamannya.
            “Kalau aja aku tahu dari awak, Meydi itu suka sama kamu, aku gak akan ngebiarin ada hibungan yang mengikat kita.”
            “Jadi maksud kamu, kamu gak mau ada hubungan ini?”
            “Yuda, cinta itu gak perlu dengan hubungan seperti ini. Tanpa hubungan ini pun kita bisa memiliki persaan kita.”
            “Tapi aku gak bisa.” Lagi-lagi meninggalkanku begitu saja. Walau baru selangkah.
            “Kamu harus bisa. Demi aku, Yud. Cinta itu butuh pengorbanan.”
            “Jadi maksud kamu, aku juga harus ..” berbalik arah lagi. “.. suka sama Meydi?” aku tak tahu sejak kapan ia ada di belakang kami. Mendengarkan pembicaraan ini.
            “Yuda, ternyata kamu juga suka sama aku? Berarti benar, Rianti gak lagi ngebohongin aku.” Dia memeluk Yudha di hadapanku. Semakin menangis aku. Betapa pelik masalah ini. Betapa perih teriris hatiku. Entah apa yang harus aku lakukan.
            “Maaf, Ri. Tapi Meydi maksa untuk keluar.” Ucap Rena menyesal.
            “Rianti..” ucap Yuda berbisik.
            Aku hanya diam berfikir. “Lakukan saja. Demi aku. Kumohon.” Kuusap pipiku. Penuh air mata ternyata. Berusaha menyembunyikan rasa sakit ini dari Meydi.
            “Mey..” sahut Yuda.
            “Iya?” melepaskan pelukkannya.
            “Selamat, ya, Mey. Selamat, ya, Yud.” Jabatanku tak terbalas.
            “Rianti..” sahut Rena lemah. Menatap wajahku yang penuh kehancuran.
            Sebuah pengorbanan diantara kesetian seorang sahabat. Inilah Rianti.

S E L E S A I