Say What Do You Feel Now!!!

Selasa, 06 November 2012

Melangkah Untuk Kembali





Betapa lelahnya mengarungi waktu
Satu hari terasa seminggu
Seminggu terasa setahun
Dan setahun terasa seabad
               
                Namun langkah terlanjur jauh berpijak
                Di atas tanah dan rerumputan hijau
                Mundur! Mundur?
                Hah.. aku tak akan rela

Aku terlanjur payah
Aku terlanjur jauh melangkah
Aku telah di ambang di tengah
Dan tak mungkin kulepaskan begitu saja

                Meski terik semakin menjadi
                 Meski keringat terus mengalir
                Meski linangan terus menderu
                Aku akan terus maju, akan kuhadapi dunia baruku

Tapi… aku terhenti sejenak
Kakiku letih untuk melaju
Mataku terpana diam terpaku
Tubuhku tak bergerak menjadi kaku

                Salahkah apa yang kulihat
                Salahkah apa yang kurasakan
                Salahkah jalan yang kupilih
                Dan salahkah dunia baruku ini

Tiga tahun kau tinggalkanku
Tiga tahun kutinggalkanmu
Jauh terpisah ruang dan waktu
Jungkir balik coba lupakanmu

                Tak ingin lagi kuingat
Tak ingin lagi kukenang
Tak ingin lagi kukembali di saat itu
Dan tak ingin lagi kubersamamu

Sungguh, semua telah cukup
Lama kusetia dengan janjiku
Janjiku tuk tak melupakanmu
Meski ku tak tahu, apakah kau pun begitu

                Kumohon jangan ungkit
                Kenangan itu sungguh pahit
                Dimana duniaku terasa sempit
                Dengan aku yang selalu terhimpit

Biarlah Tuhan.. biarkanlah
Aku ikhlas dia telah pergi
Pergi jauh dari hidupku
Dan biarkan aku pun terbebas darinya

                Aku tak ingin terkekang
                Benakku selalu membayang
                Wajahnya selalu terkenang
                Seolah di depan pandang

Aku tak percaya
Aku tak yakin
Mengapa wajahnya semakin jelas
Jelas di hadap bola mataku


                Mataku terbelalak
                Aku terperangah
                Tuhan, ku mohon…
                Bangunkan aku dai mimpi buruk ini

BUkan! Ini bukan mimpi!
Mungkinkah dia adalah kamu
Sebagai penggantimu
Dari Tuhan untuk menjagaku di kejauhanmu…


Pahit, manis dan asam
masa yang pernah terlalu menjadi
sebuah kenang










               




Melangkah Untuk Kembali




Mungkin apa yang kulihat dan kurasakan saat ini adalah mimpi. Entah mimpi indah ataukah mimpi buruk bagiku. Sempat aku berfikir, apakah aku lupa membaca do’a sebelum tidurku. Namun, ketika aku mulai terbangun, aku sadar bahwa apa yang kulihat dan  apa yang kurasakan saat ini bukanlah sebuah bunga tidurku. Hal ini adalah kenyataan yang sesungguhnya telah terjadi pada diriku dan kehidupan baruku. Aku masih belum yakin dan aku tak percaya. Aku telah mengikhlaskan dia, seseorang yang berharga di masa laluku, setelah tiga tahun berpisah dengannya sejak kepindahan SMP. Untuk menjalin komunikasi seperti dulu pun aku enggan melakukannya. Hal itu hanya akan membuatku rindu masa lalu dan menangis saat mengenangnya. Meski tiga tahun kumenunggu untuk setia kepadamu. Namun akhirnya, kuputuskan tuk akhiri pilihanku ini.
           
            Sore ini pun lagi-lagi aku mendapat giliran pulang yang terakhir. Sekolah hampir sepi. Dari sekian ratus siswa yang studi di SMA ini, tinggal beberapa puluh orang saja yang masih bisa dihitung dengan jari-jariku. Salam-sapa serta klakson turut meramaikan jalan depan sekolah. Kekeluargaan sekolah ini patut kuacungkan jempol. Bukan hanya dua jempol, kalau boleh aku pinjam jempol kalian.
            Sebelum kulangkahkan kakiku keluar dari gerbang sekolah, aku sempat melihat kakak itu berboncengan dengan temannya sambil menenteng-nenteng sepasang sepatu yang ia lepas. Aku tahu ia memperhatikanku hingga benar-benar pulang dengan sebuah kendaraan. Aku tak berbalik arah, sekalipun hanya untuk tersenyum menghormati dia sebagai kakak kelasku. Biarlah biar, aku tak peduli. Aku tak lagi ingin tenggelam dan larut seperti masa itu. Aku tak ingin terulang lagi. Cukup sekali.
            “Jika tak mengharapkan, maka aku tak akan lagi merasa kehilangan.” Ucapku dalam lubuk hati.
Di sepanjang jalan pulang, wajahku mendongak menatap awan senja yang mulai kemerahan setelah di tinggal oleh matahari yang perlahan tenggelam. Hingga tak terasa aku sudah sampai di rumah. Rasa lelah sehabis belajar seharian lamanya tak lagi pernah kurasa. Semua kuhadapi dan kujalani dengan senyuman. Belum lagi tugas yang katanya seabrek-abrek, menurutku itu nggak benar. Sedikitpun, aku jarang mengerjakan tugas sekolah di rumah. Semua tugasku telah selesai sejak di sekolah tadi.
            Kuambil sebuah buku dari rak buku. Kubuka di bagian pertengahannya. Mulai saja jari-jariku lentur menuliskan apa yang ada di fikiranku saat ini.

            Bukan sebuah istana yang megah
            Tangga tersusun menyongsongnya
            Namun berdegup hati nan merah
            Ketika perlahan kubuka mata
Bukan ungkapan cinta sang pujangga
Juga bukan lantunan merdu sang penyair
Hanyalah dia bertegak di depan mata
Membuat tangis bergerak mengalir
           
            Ingin aku berlari
            Menghindari keadaan ini
            Tapi apalah daya dalam diri
            Jika Sang Kuasa tak memberi

Terjadilah apa yang hendak terjadi
Lakukanlah apa yang harus dilakukan
Tapi satu pintaku, Tuhan
Bantuku tuk tegar menghadapi

            Kenyataan ini
            Begitu membuat aku merasa bimbang
            Ragu ku selalu bertanya
            Rasaku kini terulang kembali


            “Wajah yang sama belum tentu sikapnya juga sama. Terutama hatinya..” Lagi-lagi bayangan kakak itu terlintas lagi dalam benakku. Hush.. hush.. pergi. Jangan kemari. Tak ada lagi ruang untuk menampungmu dalam benakku. Sana-sana. Jangan ganggu aku. Dua kata, bebaskan aku.
            Tidur. Satu-satunya cara menghilangkan kepenatan. Mata yang selalu terbelalak membuka di setiap harinya, otak yang selalu bekerja dan fikiran yang diharuskan terbuka luas mencengkeram cakrawala. Dengan berdo’a agar mimpi indah selalu hadir bagai bunga tidurku. Mengucapkan berbagai kata terima kasih atas nikmat hari ini dan berjuta harapan untuk hari esok yang lebih baik lagi. Kututup hari ini bersamaan dengan terpejamnya mataku. Selamat malam, rembulan. Tersenyumlah engkau selama menjaga tidurku di malam kelam.



*******


         

Dering jam bekker yang tersetel semalam sebelum tidur, tepat berbunyi di telingaku. Sontak aku terbangun dari tidur lelapku. Lagi-lagi mulutku komat-kamit membaca mantra sebangun tidur dan berjuta harapan di hari ini. Berbagai ritual sebelum sekolah terlaksana secara urut dari A sampai Z. Lagi-lagi di pagi ini pun aku menatap lagi langit yang masih berkabut. Embun membasahi rerumputan sekolah yang selalu terlihat hijau. Kulangkahkan kaki dengan tak gentar. Berdebumlah, berdebum. Laksana Raksasa ataupun Buto Ijo. Memasuki pekarangan sekolah di pagi buta yang masih kaya akan oksigen bebas tanpa ada jual-beli disekelilingnya. Tak lama, sekitar lima belas menit kemudian waktu menunjukkan 06.45. saatnya apel pagi.
            Terjajar barisan rapi, dari yang tertinggi hingga terendah. Pertama kali ikut apel ini aku merasa bingung. Sebab, di SMP dulu kami berbaris dari yang terendah hingga yang tertinggi, berbalik arah dengan di SMA sekarang. Pernah salah satu guru dan instruktur yang terdiri dari TNI, saat latihan disiplin dan mos mengatakan “rangkaian yang semakin panjang, akan semakin sulit untuk di atur. Di dalam rangkaian terdiri dari kepala, badan dan ekor. Sebab itulah kamu berbaris dari yang tertinggi ke terendah’’. Kalimat itu begitu menjamin kepercayaan kami seorang siswa terhadap gurunya.
          Satu persatu petugas memasuki lapangan apel. Mulai dari pemimpin dan Pembina. Semuanya masih baik-baik saja, hingga satu petugas memasuki arena apel dari ujung pandangku melintas di depan, tepat di depan bola mataku. Jantungku mulai berdegup kencang, darah seolah mengalir tak kenal arus, hatiku meledak membuncah. Seolah ada pegas yang membuat sekujur tubuhku terasa ngilu-pilu.
            “Irsyad?” wajahku memerah. “Irsyad!” sekali lagi nama seseorang keluar dari mulutku. “Dia, mengapa bisa ada disini? Di sekolahku? Sedangkan terakhir kami bertemu dia masih  di Temanggung sana, di SMP lama. Lalu?” beribu pertanyaan datang menghampiriku. Seribu kali pun aku berfikir, tak akan ada satu jawaban yang berhasil kutemukan secara akurat. Bahkan untuk hipotesis awal pun masih penuh kebimbangan.
            Mungkinkah aku masih bermimpi? Bertemu si doi di setiap hari sambil merasakan hangatnya mentari yang tengah menyambut pagi.         Tak akan bergetar lagi derap langkahku. Sejuta semangat membakar asaku. Terus kususuri sambil melihatnya di sepanjang jalanku. Kelopak mataku pun enggan mengedip, walaupun hanya satu kali. Aku tak ingin dia pergi ‘lagi’ dalam genggam hadapku. Tapi, sayang, hendak apa kuberkata. Lagi-lagi ini bukan mimpi. Ini nyata! Sungguh nyata. Rasaku langsung hilang, semangatku lari menerjang. Bukan lagi mimpi indah yang berubah menjadi kenyataan, namun mimpi ini menjadi menyeramkan. Seutas tali harapan, pimpinku dalam dekapan menghadapi sulit ujian ini, Tuhan.
“Tapi.. tunggu sebentar.” Keraguanku semakin menguat. “Irsyad yang terakhir kali kulihat, itu tidak tinggi seperti ini. Ia juga hanya memiliki bentuk tubuh yang standar. Sedang yang barusan ini kulihat, Irsyad berbadan tegap dan tinggi. Apakah dia Irsyad? Tapi.. dia..” rasa aku pernah melihatnya. Otakku dipaksa bekerja lebih keras dari biasanya. “.. dia.. dia seniorku yang kemarin sore. Okta. Kak Okta.” Jawaban itu pun tak membuatku urung untuk terus berfikir.
            Kejadian itu yang melatarbelakangi aku untuk selalu menatap dan memperhatikan gerak-geriknya beberapa hari belakangan. Sedikit demi sedikit apa yang kulihat darinya, kubandingkan. Beta-beti. Sebelas-dua belas. Bagai pinang di belah dua, hanya saja pada saat membelahnya kurang akurat. Sehingga besar sebelah. Sejauh ini memandanginya seperti sudah menjadi keharusan. Hatiku pun luluh lantak dibuatnya. Fikiranku gelisah, gundah gulana. Dan yang mengerikan lagi, sorotannya padaku.
            Aku tak tahu apa yang telah terjadi pada diriku belakangan terakhir. Fikiranku tak hanya dipenuhi segudang hafalan pelajaran, namun juga wajah mereka beruda yang sama persis. Bagaimana bisa aku membayangkan cara Tuhan membuat dua insan yang sama persis dengan latarbelakang keluarga dan tempat yang berbeda jauh. Benarkah ini sebuah kebetulan belaka? Terkadang aku berfikir, hal ini seperti pelajaran sejarah. Dengan pengertian “sejarah adalah peristiwa penting yang terjadi di masa lampau yang berkaitan dengan masa kini untuk bekal di masa depan”. Perbedaannya dengan problemaku ini adalah “okta adalah seseorang di masa laluku, yang kemudian muncul di hidup baruku, entah berkaitan atau tidak di masa depanku”.
            Aku berjalan menuju ruang kelas. Ada Mbak Rika dan Kak Okta di sana. Entah apa yang terjadi, aku melihat Kak Okta memegang hidung Mbak Rika. Sejenak aku terpaku, lalu tatapanku dan Kak Okta bertemu dalam satu titik. Langsung saja aku menunduk, tak ingin kulihat pemandangan di hadapku itu. Kupercepat langkah kakiku. “Siapa dia? Aku gak kenal. Aku gak kenal. Siapa Okta? Siapa? Gak tau, aku gak kenal.” Ucapku memungkiri keadaan ini. Payah.
Hari terasa cepat sekali berlalu. Kini senja sudah menantiku lagi. Untuk mengucapkan hati-hati di jalan. Aku masih menunggu di depan gerbang sekolah. Membawa empat buah buku pelajaran setebal alaihim.
            “Mbak..” sapaku pada kakak kelas. Entah kenapa rasa hatiku mengikat pada dua kakak kelas ini yang tengah berboncengan di depan hadapku, Mbak Edis dan Kak Roni. Apakah aku akan menghadapi pandangan seperti ini lagi? Langsng kusingkirkan fikiran yang menganar saat ini. Kubuka halaman demi halaman. Kubaca dan terus kubaca. Hingga aku penat mendengar kebisingan jalan oleh tegur sapa para siswa. Terlintas sebuah motor di hadapku. Dengan Kak Okta dan Mbak Yeyen yang sedang berboncengan.
            “Apa kuduga?” ucapku bersugesti pada diri sendiri. Hallo.. penting gak sih. Loe dan diri loe. Mbak Edis dan  Kak Roni. Dia melihatku. Secepat langsung kutundukkan wajahku. Gaya pegas itu mengisi lagi tubuhku dengan arus yang sangat kuat. Huuuuh.. ngilu.


*******
            Dari sini kulihat dia berjalan, seperti Irsyad di masa dulu. Tanpa kusadar, berlinang air mataku.
            Aku menyukaimu bukan hanya karena kamu mirip dia yang berharga bagiku. Tapi, aku menyukaimu karena suatu alasan yang aku sendiri pun tak tahu apa alasan itu. Mencintaimu.. Tadinya adalah keindahan. Aku teringat akan kenangan. Mencintaimu pun.. sempat terfikir sebagai anugrah tersendiri dari Tuhan, tuk isi kembali sebuah kehampaan. Namun, semakin kumenikmatinya, ternyata tak sekadar keindahan. Mencintaimu juga sebagai ujian yang menghujam. Kini semakin kuat kurasakan. Semakin tergores pula hatiku, aku terluka.
“Mila!” buku tugas menoyor wajahku. Secepat kilat kututup lembaranku dari Ratih. “Ayo donk ajarin. Gak mudeng nih.” Kucoba membaca perintah dalam tugas itu. Perlahan demi perlahan kucoba lupakan kejadian barusan. Menggantinya dengan pelajaran.
“Oh Tuhan, sungguh. Ini sangat membingungkan. Aku tak kuat lagi menanggung asaku yang melayang tak tentu arah. Di dua periode hidupku, problema ini menjadi momok yang selalu menggentayangi, menakut-nakutiku. Dan di saat ini pun aku menangisi hal kecil yang terasa besar bagiku. Sungguh, aku rela jika dia bukan milikku. Walaupun aku terkanjur jatuh hati padanya. Biarkanlah dia pergi jika dia bukan untukku, dan jangan biarkan dia pergi ‘lagi’ jika dia memang untukku.” Dalam hati kumenangis. Melihat Okta di kejauhan sana. Kakak kelasku yang tak sengaja masuk di hidup baruku dengan peran yang cukup penting.
            “Aku percaya, semua masalah Engkaulah yang memberinya, dan aku pun percaya. Disaat-saat yang kuanggap sulit, di saat-saat yang kuanggap berat, bantulah aku untuk menghadapi, menjalani dan melewati. Dan jika ku tak mampu, kuserahkan kembali semuanya kepada-Mu.” Mataku nanar memandang sekitar hingga tepukkan Ratih tepat di pundakku menyadarkanku untu kembali mengajarkannya.
            “Mil, Aku sempat cemburu sama Mbak Yeyen. Dia udah punya cowok, tapi masih aja deket-deket sama punya orang.” Omongannya membuat mata pensilku terhenti.
            “Oh ya?” tepat seperti yang kemarin sore.
            Kutetapkan tekad membara. Untuk tak lagi memperhatikannya, memikirkannya dan segala kegiatan yang ada hubungan dengannya. Sudah beberapa hari ini pun aku pulang duluan tanpa melihat dia yang melintas sebelum aku pulang. “Nggak ada kata nggak bisa, Mil.” Sugesti.
            “Mila?” sapa seseorang yang tengah berdiri tegak di hadapanku. Aku terkejut. Suaranya membangunkanku dari lamunan.
            “Iya. Loh?” aku menggigit ujung jari telunjukku. Jantung semakin terasa berdegup. Dia seseorang yang sejak beberapa hari lalu telah kuhindari.
            “Dipanggil Bu Lia.” Tangannya menjulur ke arahku. Menawarkanku tumpangan untuk mempermudah aku berdiri. Namun, aku kukuh bangun sendiri dengan tidak menyentuh kulitnya seujung jari pun. Berbeda dari apa yang kuharapkan. Aku kira dia akan..
            “Ada apa, Kak?” kuberanikan untuk bertanya padanya. Sekali ini, terasa aku kembali berkata-kata dengan Irsyad.
            “Setahu Kakak tadi, kamu juga di suruh ikut lomba Sains.” Juga? Berarti Kak Okta ikut. Ini adalah sebuah pertaruhan antara senang dan terluka. Aku hanya mengelus dada. Sabarlah hatiku, pasti ada hikmah dari setiap kejadian. “Kenapa, Mil?” tanyanya membungkam aku yang sedang asyik dengan fikiranku sendiri.
            “Oh, nggak. Siapa aja yang ikut, Kak? Bu Lia gak salah milih orang. Masak Mila disuruh ikut.”
            “Kakak yang mengajukan, Mil.” Terkesima aku mendengar sekaligus melihatnya yang tengah berjalan di sebelahku. Apa alasannya? Tanyaku. “Kakak sering memperhatikan kamu.”
            Oh Rabb. Inikah sebuah kejutan dari penantianku selama tiga tahun kemarin? “Maksudnya?” tanyaku meyakinkan. Kata-katanya membuat hatiku teriris.
            “Referensi lain adalah Ratih. Kakak sering bertanya siapa yang sering bersama Ratih, yaitu kamu, Mila. Dari dia juga kakak tahu..” tahu apa? Semakin membuncah. Aku gelisah.
            “Tahu apa, Kak?”
            “Tahu kalau kamu pintar Sains.” Oh.. kukira percakapan itu cukup untuk jadi penutup. Sampai akhirnya kami dapat pengarahan untuk lomba dan terus berlatih. Setidaknya sampai seminggu ke depan, aku harus siap terluka. Melihat Irsyad dengan perasaan yang berbeda denganku. Saat berlatih pun terkadang tanpa sadar lagi-lagi aku menangis sambil mengerjakan setumpukkan soal.
            “Tuhan, terjadilah apa yang Kau kehendaki untuk terjadi. Seberat apapun itu bagiku. Satu pintaku, bantu aku untuk menghadapi, menjalani dan melewatinya dengan hati yang ikhlas, sabar dan tegar.” Aku tersesak dalam keadaan ini. Lagi-lagi aku terhimpit dalam duniaku yang terasa sempit.
            “Ini.. Jagalah perasaanmu.” Sehelai kain tersodor di depan wajahku. Kak Okta, bukan membuat aku berhenti menangis, justru membuatku tambah menangis. Betapa pilu dan terlukanya aku. Setelah tiga tahun menghilang, kini ia kembali dengan keadaan yang mengerikan. Mungkin dengan tanpa perasaan sedikit pun kepadaku. Miris sekali bukan???
            “Maaf kalau Kakak sudah mengingatkan Mila tentang Irsyad. Kalau boleh, Kakak tak hanya sekedar ingin mengingatkan. Tapi, Kakak juga berharap bisa menjadi pengganti Irsyad di hidup barumu.” Seolah ada pesawat roket dengan hitungan lima detik membawaku melayang, membumbung tinggi menerjang awan dan langit biru. Tidakkah betepa merah hatiku. Terluka tak lagi kurasa. Tak sia-sia kesetiaanku selama tiga tahun lalu. ternyata dia hadir kembali memang hanya untukku. Terima kasih, Tuhan.. atas segala nikmat yang Engkau berikan.
            Berkat lomba Sains ini aku kembali. Melangkah ke depan untuk kembali ke masa lalu yang lebih baik lagi. Dan tahukah kamu bagaimana akhir dari lomba ini???
            “Prestasi membanggakan ini tak hanya diukir dari Okta kelas sebelas, tapi adik kelas juga turut membanggakan sekolah ini. Kelas sepuluh atas nama Mila Ahmi.” Beribu sorakan dan tepukan kedua pasang tangan memberai. Piala membumbung tinggi ke atas, serta uang pembinaan menjadi kebanggaan tersendiri.
            “Ratih, kamu bilang apa?”
            “Aku? Bilang apa?”
            “Udahlah. Aku!”
            “Peace, ya, Mil. Habisnya Kak Okta nanya terus. Dia sering perhatiin kamu loh. Nggak masalah, kan?”
            “Kurang ajar.. lihat nanti, ya.”
            “Ampun, Mil. Ampun.”
            “Sekarang aku yakin, tak pernah ada yang sia-sia di dunia ini selagi kita positive thinking dan selalu optimis pada-Nya. Semoga bahagia selalu dalam genggaman.”

Love in Paris


'Love In Paris (파리 의 연인)/Cinta Di Paris adalah Korea Selatan televisi drama seri siaran berdasarkan SBS pada musim panas 2004. Acara ini memenangkan berbagai penghargaan termasuk drama televisi terbaik pada Baeksang Arts Awards dan kedua Park Shin-yang dan Kim Jung-eun dianugerahi Grand Prize di SBS Drama Awards.
Ini adalah yang pertama dari tiga drama romantis ditetapkan di Eropa. Drama kedua adalah Love In Praha dan yang ketiga berjudulPecinta.
Kang Tae-young (Kim Jung-eun) adalah putri dari seorang sutradara film dan menjalankan keinginan ayahnya, ia mempelajari film di Paris. Untuk memenuhi kebutuhan dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk Han Ki-Joo (Park Shin-yang) yang dia cintai karena dia dapat menonton film dan minum anggurnya.
Tidak puas dengan pelayanannya, dia kebakaran itu. Namun, ketika ia menyadari bahwa ia berasal dari kota kelahiran yang sama dengan istri seorang mitra bisnis potensial, dia menyewa dia untuk bertindak sebagai tunangannya untuk pemanasan untuk mitra bisnisnya. Dia setuju dengan imbalan pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga kembali. Selama dua tanggal yang ia membawanya keluar, ia jatuh cinta dengan dongeng acara. Pada gilirannya ia menemukan dirinya tiba-tiba terpesona oleh dia. Namun, rencana pacar palsu bumerang, dan berpisah baik pada hal yang buruk di Paris. Melalui serangkaian kegiatan dia juga memenuhi Yoon Soo-hyuk (Lee Dong-gun) yang adalah keponakan dari Ki-joo.
Dipanggil dengan ayahnya, Ki-joo kembali ke Korea, dan Tae-young juga kembali untuk menghadiri ulang tahun kematian ayahnya. Keduanya bertemu kembali secara kebetulan di Seoul dan memiliki kesalahpahaman mereka diselesaikan. Dia bersiap untuk kembali ke Paris, tapi menemukan pamannya telah menyia-nyiakan diri rumah keluarganya dan lari, meninggalkan dia dengan sepupunya yang masih muda dan utang akibat yang ditimbulkannya.
Ketika mencoba untuk menyelesaikan masalah-masalah keluarganya dan mengambil kamera ayahnya yang disita oleh kreditur, dia bertemu Ki-joo lagi. Melalui pertemuan kebetulan ganda, dia menemukan dirinya tertarik padanya. Soo-hyuk juga kembali ke Korea untuk melacak Tae-young bawah. Dia tinggal di rumahnya dan mencoba untuk memenangkan hatinya. Tapi dia hancur ketika ia menyadari bahwa pamannya juga bersaing untuk kasih sayang.
Situasi ini semakin rumit dengan pengenalan bulan Yoon Ah, putri seorang politisi berpengaruh yang ayah Ki-joo telah dipilih untuk menjadi istri Ki-joo itu. Dia juga terjadi menjadi teman sekelas Tae-Young di sekolah tinggi dan bertekad untuk menang Ki-joo sebagai suaminya.
Ki-joo dan Tae-young membuka hati mereka satu sama lain. Namun Yoon Ah licik dan plot Soo-hyuk terluka secara emosional untuk membaginya. Sementara itu, Direktur GD Motors mencoba untuk membawa Ki-joo bawah dan dibuat skema dengan Soo-hyuk menumpahkan desain mobil terbaru untuk saingan GD Motors. Mobil baru diumumkan dan GD Motors membatu oleh fakta bahwa desain terbaru dicuri. Kemudian, Ki-joo angka bahwa Soo-hyuk melakukan ini, tapi mengampuni dia. Fakta bahwa Ki-joo memaafkannya begitu mudah mendorong Soo-hyuk gila. Setelah masuk ke sebuah kecelakaan mobil saat menyala melalui jalan-jalan untuk mencoba untuk menghapus kesalahannya, ia mendapat amnesia dan kehilangan kenangan baru-baru ini. (Dia hanya berpura-pura dia amnesia membiarkan Tae-young bersama Ki-joo.) Yoon Ah memutuskan untuk melepaskan Ki-joo dan melemparkan cincin pertunangannya ke Han-River.
Ki-joo dan Tae-young akhirnya bisa bertemu. Sayangnya karena tidak menyukai keluarga nya 'untuknya, mereka memutuskan untuk dipisahkan sementara. Dia kembali ke Paris dan dia tinggal di Korea. Setelah 2 tahun, mobil baru diumumkan dan sukses. Ki-joo, segera menangkap penerbangan ke Paris. Untuk beberapa waktu, mereka tidak tahu di mana satu sama lain adalah.
Kemudian suatu hari, sama seperti seri dimulai, Ki-joo melempar koin ke air mancur dan ingin bertemu Tae-young lagi. Saat ia berbalik dia melihat berdiri di sana. Adegan berikutnya menunjukkan mereka duduk di tepi sungai. Tae-young memecah keheningan dan bertanya, "Jika kami tidak bertemu di Paris, apakah Anda pikir kami masih akan berakhir bersama-sama?" Ki-joo jawaban, "Kemungkinan besar kita akan memiliki."
pemain :

About Winter Sonata

Winter Sonata (Winter Ballad/Winter Love Storybahasa Korea겨울연가) adalah seri kedua dari drama serial Endless Love produksiKBS. Serial ini diproduksi Maret 2002 di Korea Selatan. Di Jepang, drama ini ditayangkan NHK dari April hingga September 2003, dan menandai dimulainya gelombang Korea di Jepang dan seluruh Asia. Dalam bahasa Jepang, judul drama ini ditulis sebagai Fuyu no Sonata (冬のソナタ?), 冬日戀歌 (Dōngrì Liàn'gē) atau 冬季戀歌 (Dōngjì Liàn'gē) dalam bahasa Mandarin, dan Bản tình ca mùa Đôngdalam bahasa Vietnam.

Cerita dimulai ketika Joon-sang, putra seorang musikus terkenal, pindah ke Chuncheon, kota kecil di Korea Selatan. Sebagai murid berbakat, Joon-sang yang pendiam disukai teman-teman dan para guru. Joon-sang percaya tiada seorangpun yang benar-benar mencintainya karena ia percaya ayahnya sudah meninggal setelah bertengkar dengan ibunya.
Pada suatu hari, Joon-sang bertemu rekan sekelas bernama Yu-jin, dan mereka jatuh cinta. Namun hubungan mereka tidak berlangsung lama. Joon-sang menjadi korban kecelakaan lalu lintas hingga menderita amnesia akibat kerusakan otak.
Ibu Joon-sang ingin mengembalikan rasa hormat sang putra terhadap dirinya. Seorang psikolog dimintanya untuk mencuci ingatan Joon-sang. Semua ingatan Joon-sang ketika dibesarkan sebagai anak tidak sah menjadi terlupakan. Bersama sang ibu, Joon-sang kemudian pindah ke Amerika Serikat. Di sana, Joon-sang memakai identitas baru sebagai Li Min-hyung. Sementara itu kepada semua teman-teman dan guru, Joon-sang dikabarkan meninggal dunia.
Sepuluh tahun berlalu, Joon-sang telah menjadi arsitek pemenang penghargaan di Amerika Serikat. Ia sudah tidak ingat lagi semua pengalaman hidupnya di Korea. Joon-sang telah menjadi orang yang berbeda, seorang berhati terbuka yang peduli terhadap orang lain, termasuk terhadap ibunya. Ia kembali ke Korea dan Yu-jin kebetulan melihatnya di sebuah jalan. Yu-jin sudah menjadi seorang desainer interior. Ia teringat masa-masa indah bersama Joon-sang hingga membatalkan pertunangan dengan Sang-hyuk yang sahabatnya sejak masih kanak-kanak. Yu-jin tidak tahu Joon-sang sudah berpacaran dengan teman sekaligus saingannya, Chelin. Yu-jin mulai bekerja di kantor arsitek tempat Joon-sang juga bekerja, dan ingin tahu apakah Joon-sang masih mengingatnya.
  • Bae Yong Joon sebagai Kang Joon Sang / Lee Min Hyung
  • Choi Ji Woo sebagai Jung Yu-jin
  • Park Yong Ha sebagai Kim Sang-Hyuk
  • Park Sol Mi sebagai Oh Che-lin
  • Lee Hye Eun sebagai Jin Suk
  • Ryu Seung Soo sebagai Yong Kuk
  • Jung Dong Hwan sebagai ayah Sang Hyuk
  • Lee Hyo Chun sebagai ibu Sang Hyuk
  • Yoo Yul sebagai penyiar radio
  • Kim Hae Sook sebagai ibu Yu-jin
  • Lee Hye Young
  • Kwon Hye Hyo
  • Jung Woon Joong
  • Jang Hang Sun
  • soundtrack :
  • 처음부터 지금까지 Cheoeumbuteo Jigeumkkaji (From the Beginning Until Now) oleh Ryu (류)
  • "My Memory" oleh Ryu
  • 처음 Cheoeum (First Time)
  • 그대만이 Geudaeman'i (Only You) oleh Ryu
  • 처음부터 지금까지 Cheoeumbuteo Jigeumkkaji (From the Beginning Until Now), versi instrumental
  • "My Memory", versi piano dan biola
  • 보낼 수 없는 사랑 Ponael Su Eobsneun Sarang (The Love I Can Not Send) oleh Seon (선)
  • 시작 Shijak (The Beginning)
  • 그대만이 Geudaeman'i (Only You), versi piano dan biola
  • "My Memory", versi piano
  • 잊지마 Itjima (Don't Forget) oleh Ryu
  • 기억속으로 Gieoksog'euro (Inside the Memories)
  • 연인 Yeon'in (Lover) oleh Ryu
  • 제비꽃 Jebikkoch (Violet) oleh Ryu
  • 그대만이 Geudaeman'i (Only You), versi piano
  • 처음 Cheoeum (First Time), versi piano
  • 제비꽃 Jebikkoch (Violet), instrumental

Kesungguhan Dari Kesetiaan


Prolog

Jika hidup ini terasa berat
Aku tak ingin memikulnya
Tapi aku ingin dan akan menerbangkannya
            Jika aku tak sanggup
            Atau aku tak terlalu tinggi
            Maka aku ingin seseorang yang membantuku menerbangkannya
Jika masih tidak bisa juga
Akan kuhanyutkan bersama tetesan air di dalam doa


            Untuk mengetahui sebuah rahasia itu seperti mengerjakan soal fisika, tepatnya lagi matematika. Menggali rahasia bagaikan melanjutkan langkah dari rumus yang ada. Semakin tahu, maka semakin rasa ingin terus menggalinya. Hingga pori-pori berkeringat, hingga otak terus dipaksa untuk tak henti berputar. Menemukan kunci rahasia seperti telah menyelesaikan soalnya. Tinggal, apakah benar atau salah soal yang telah kita kerjakan. Jika salah, hati terasa kecewa yang berarti bahwa rahasia itu menyakitkan. Jika benar, maka hati terasa gembira yang berarti bahwa rahasia itu menakjubkan.
            Tapi, aku tak peduli dan aku tak ingin peduli apakah soalku benar atau salah, rahasia itu pahit atau manis. Yang akan kulakukan setelahnya adalah bersyukur dan berterima kasih kepada tuhanku atas segala nikmat yang telah Dia berikan. Nikmat semangat untuk terus mencoba, nikmat pengetahuan untuk terus melanjutkan langkah dari rumus, nikmat penglihataan untuk menelaah apa yang sebenarnya terjadi dan nikmat asa atas apa yang kurasa. Meski terasa pahit, tapi aku yakin, aku senang. Sebab aku tahu dan tidak hidup dalam kebohongan.


            Meninggalkan atau lebih tepatnya lagi ditinggalkan adalah dua kejadian yang sedikit berbeda dengan rasa yang sama. Rasa hancur, sakit dan kecewa terluapkan dalam kesedihan dan tangisan. Apakah itu jalan keluar? Jelas bukan, namun setidaknya asa emosional yang terpendam sedikitnya dapat terluapkan. Menangis? Apakah sesedih itu? Apakah dia sangat berharga? Sebenarnya, kalau difkir-fikir sih, tidak begitu sedih juga dia tidak begitu berharga. Namun, pada saat itu kesedihan menguasai hati dari segala rasa senang yang pernah ada. Terlihat bodoh sekali. Dunia terasa sempit bagai daun kelor. Pekerjaan yang ada di bumi ini sepertinya hanya bernafas, menangis, melamun dan memeikirkan dia. Tidak ada waktu untuk mengerjakan hal lainnya. Diibaratkan sebagai penyakit, mungkin sudah akut dan tak ada harapan untuk hidup lagi.
            “Kalau kamu jadi pergi ninggalin aku, aku akan terus nungguin kamu sampe kapanpun.” Perkataan yang tak mungkin bisa kulupakan, sebab kalimat itu selalu terngiang di telingaku selama nafas selalu berhembus.
            “Masak sih? Apa yang gak mungkin terjadi di bumi ini? Perasaan sewaktu-waktu bisa berubah, Ram. Apalagi, kalau nanti aku benar-benar bakalan ninggalin kamu. Gak ada yang tahu dan juga gak ada yang bisa melarang. Termasuk aku, aku gak bisa berbuat apa-apa seandainya hal itu terjadi.” Rasanya, sangat tidak mungkin. Kepercayaanku padanya pun tak timbul sebegitu mudahnya. Kalau wanita mungkin bisa untuk setia, karena mereka mementingkan perasaan dan emosional dibangdingkan ara lelaki yang mudah saja melakukan apa yang ia mau dengan fikiran dan kelogisan.
            Janji bukan jaminan, bukan kalimat yang bisa membuatku terbang melayang. Tapi, aku wanita yang membutuhkan kesungguhan. Jikalau dia tak berkata seperti itu sebelum aku pergi, sungguh aku tak mengapa.
            “Percaya deh, aku janji kok.”
            “Aku percaya kamu bisa untuk saat ini, tapi aku gak bisa percaya untuk ke depannya.”
            “Kapan sih aku pernah bohong sama kamu?”
            “Kapan? Kalau soal itu aku gak tahu, urusan hablumminallah dan hablumminannas biarlah jadi rahasia masing-masing. Sekarang, gini aja deh. Kalau aku kasih kepercayaanku sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?” bukan maksudku untuk mengintrogasi atau sok acuh terhadap masalah ini. Aku ini wanita sensitif dengan soal perasaan, makanya aku sangat berhati-hati.
            “Aku akan setia sama kamu, aku akan nunggu kamu sampe kamu kembali lagi.”
            “Kalau aku pulang dua puluh tahun ke depan, apa kamu terus nunggu aku?”
            “Mmm..” nampaknya dia bingung dan tengah berfikir. “Iya, aku akan terus nunggu kamu.”
            “Terus, kalau ternyata aku gak akan balik lagi. Gimana?”
            “Mm..” kedua kalinya ia berfikir. “Kok kamu ngomongnya gitu sih?” dia bangkit di tengah duduknya. “Apa kamu mau mutusin hubungan kita sampai disini?”
            “Hubungan? Tuhan akan memutuskan nikmatku bila aku melakukannya, Ram. Ambil kembali janjimu. Aku hanya butuh kesungguhan.” aku rasa dua kalimatku terakhir bisa membuatnya mengerti. “Sebentar lagi, pesawatnya akan berangkat. Jaga dirimu baik-baik, Ram. Assalamu’alaikum.” Perlahan aku melangkah menjauh.
            “Wa’alaikum salam.” Dia masih termenung menunduk. “Aku akan jaga diriku baik-baik. Cepatlah kembali dan temui aku, Al!!” serunya setelah aku mulai memasuki pesawat. Kulambaikan tanganku dari balik jendela. Tergores seberkas senyum di wajahnya. Buktikan kesungguhanmu saat aku jauh disana.

*******

            Aku terus berfikir, bagaimana nian cara untuk membuktikan kesetiaanku pada Alya. Dua puluh tahun? Atau tidak sama sekali. Lalu bagaimana nasibku? “Wanita itu, sungguh mengagumkan.”
            “Ram, gimana Alya?” untung saja ada Radi, setidaknya aku data bertukar pikiran.
            “Alya udah berangkat.”
            “Jangan murung-murunglah.”
            “Gimana gak murung? Dia memang mengagumkan, gak ada duanya. Gue bilang gue bakalan nungguin dia sampe dia balik.”
            “Terus? Dia senyum? Apa responnya?”
            “Iya, dia senyum dan bilang gue disuruh ambil janji gue dan ngasih gue pertanyaan yang cukup bikin kepala dan hati gue saling bertolak belakang. Dia cuma butuh kesungguhan gue.”
            “Loe bilang apa?”
            “Gue coba.”
            “Semoga berhasil, sob.” Tepukan keras mendarat dipundakku.
Detik berjalan menit, menit berjalan jam, jam berjalan hari dan seterusnya. Kurang lebih sudah tiga bulan sejak Alya pergi, namun rasanya sudah setahun. Fikiranku untuk membuktikannya pun tak  pernah henti. Cepatlah kembali, Al..
“Daripada loe masih mikirin Alya yang gak tau juga kejelasannya, mendingan loe ikut gue. Gue kenalin sama ukhti yang lain. Lebih cantik dan lebih baik daripada Alya.”
“Gak deh. Gue masih ada tugas.”
“Tugas? Tugas apaan? Tugas buat ngebuktiin kesungguhan loe? Hari gini masih ngandelin kesetiaan? Gak jamannya lagi, kita tuh laki, ada gak sih cowok digantungin cewek?!”
Hatiku semakin gundah gulana, sebagian ruang dihatiku setuju dan sebagian lagi menolaknya mentah-mentah. Batinku terus bergulat dengan nafsu dan ajakan Radi. Apalagi semenjak saat itu, aku lebih menutup diriku untuk lebih dekat berteman dengan kawan perempuan. Terkadang aku berfikir tentang perkataannya waktu itu. Menutup atau tepatnya mengurung diri dengan melakukan hal positif dan banyak belajar untuk semester akhir. Tuhan, angin, matahari, bintang dan bulan.. jadilah saksi untuk penantian.
Wisuda dan kerja menjadi fikiranku yang kedua. Mencari tempat sesuai jurusan dan keterampilan. Alhamdulillah, aku mendapatkannya. Guru di salah satu sekolah Islam Terpadu. Mengajar sambil menatapi mereka belajar, rasanya aku ingin cepat meneruskan masa depan. Kubuka tanggalan kecil, tak terasa sudah lima tahun berpisah dengan Alya. Namun, menakjubkan aku bisa menepati janjiku padanya. Masihkah lama waktuku untuk menanti, Tuhan?
Saatnya kembali. Assalamu’alaikum Indonesia.
Kulihat tulisan terakhirnya di hari ini. Hatiku membuncah, rasaku baru saja aku mengeluh. Namun, Allah tak membiarkan aku terus sedih. Kapan di sampai? Terus kubaca komentarnya dan aku dapatkan. Aku pergi secepat yang kubisa untuk tak terlambat menjemputnya di bandara. Aku ingin menjadi orang ertama yang menyambut kembali kedatangannya. Dapat dibilang juga aku telah melanggar tata lalu lintas, tapi tolong ini sekali saja kulakukan. Kuparkirkan mobil dan langsung berlari mencari-cari di tengah keramaian orang berlalu-lalang. Hingga akhirnya tepat di depan pandangan mata, Alya kembali lagi.     “Al..” ada seorang laki-laki menghampirinya. “..ya.” Aku tak bisa berfikir apa-apa, semuanya kosong. Untuk berkata pun aku tak bisa. Yang jelas aku kecewa. Kutinggalkan dia dari pandanganku. Segera aku pergi dan untuk yang kedua kalinya aku melanggar lalu lintas. Turun di pinggiran jalan dan meutup mobil sekerasnya.
“Tuhan!!! Mengapa kau biarkan aku kecewa? Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk menghadapi ujian seberat ini. Aku berusaha meneati janjiku padanya. Tapi inikah balasan yang telah Kau takdirkan untukku? Alya!!!!!”

*******

Apa kamu masih nunggu aku, Ram?  Kalimat dari mimpiku semalam. Rasanya hatiku semakin tak kuat bila aku tak bertindak apa-apa. Kuarahkan mobilku ke tempat itu. Bila saja Alya datang kesana.
Aku terus duduk dan sepulangan Alya pun aku terus menanti. Sampai aku teringat ucaannya ‘apa yang tidak mungkin. Perasaan bisa berubah sewaktu-waktu’.
“Apakah perasaannya juga sudah berubah terhadapku?”
“Tidak semudah itu, Ram. Wanita itu lebih mementingkan perasaan dari kelogisan pikiran. Apa kamu sudah membuktikan kesungguhanmu?” dia datang dan menjawab pertanyaanku.
Kubuka dompetku dan memberikan kartu identitasku. “Untuk apa?”
“Lihat, statusnya. Sampai sekarang aku terus menunggu. Aku berusaha menepati kesungguhan dan janjiku. Tapi alangkah disayangkan, ternyata penantianku ini sia-sia saja.” Kuambil lagi kertu identitasku.
“Maksud kamu apa, Ram?”
“Alya!” seru seseorang dari dalam. Dan aku ingat, dia yang mebuat aku kecewa.
“Aku rasa sudah jelas, Al. Perkataanmu benar, apa yang tidak mungkin dan perasaan seseorang dapat berubah. Maka tak ada lagi yang dapat aku lakukan. Terima kasih karena kamu sudah mengajarkan bagaimana caranya untuk menjadi laki-laki sejati dengan kesungguhan. Bukan sekadar janji.” Aku berdiri dan melangkah pergi. Kuhentikan saja semuanya, daripada aku semakin menderita.
“Dia sepupuku, Ram. Hanya untuk beberapa waktu tinggal dirumahku. Aku pun berterima kasih atas kesungguhanmu. Tapi, aku tetap wanita, mengutamakan perasaan.”