Say What Do You Feel Now!!!

Rabu, 22 Agustus 2012

Ajakan Dari Gunung Merapi


Ajakan Dari Gunung Merapi


            Pagi ini hari terasa dingin sekali. Sebab hujan yang mengguyur deras permukaan tanah merah. Namun, tak ada alasan untuk tidak datang ke kelurahan tempat aku bekerja. Kalau baru seminggu sudah malas-malasan, bagaimana ke depannya? Bisa dipecat atasan aku! Membuka almari peninggalan almarhum Bapak dan almarhumah Ibu. Mengambil baju hangat dan melepaskan gantungannya.
            Blak. Kututup, namun masih enggan merapat juga pintu ini. Kreeek. Merapatkan papan yang saling bergesekan. Sudah lama sekali. Mengunci pintu rumah dengan gembok. Mulai melangkah. Tanah merah ini semakin liat. Becek dimana-mana. Belum lagi kubangan air yang menghiasi tiap-tiap jalan. Kuangkat celana seragamku setinggi lutut. Mulai berjinjit jalanku.
            “Semalam Ibu Ratih dengar tidak?”
            “Dengar apa. Bu Tatik?” obrolan ibu-ibu rumah tangga. Padahal hari masih pagi sekali. Mungkin sekalian berbelanja sambil cerita.
            “Dika tertawa-tawa sendirian. Mengaku bahwa dia sedang menjadi Raja.” Matanya melotot. Untung saja tidak sampai keluar.
            “Masak sih.” Menunjukkan sayurnya. Tak banyak yang kudengar. Lebih baik kulanjutkan langkahku agar tidak terlambat. Banyak berharap juga bisa menjadi pegawai teladan.
            Masih dengan mengangkat span dengan kaos kaki hitam yang menutupi betis. Tiba-tiba lewat sebuah mobil merah kencang sekali. Menerbangkan percikan air ke udara dan menjatuhkannya ke arahku.
            “Astaghfirullahal ‘adzim.” Mengusap wajahku yang juga ikut basah, sama seperti seragamku, basah. Lebih berhari-hati lagi jalanku. Berhenti di sebuah gubuk tempat pemberhentian angkutan desa. Mengulurkan lengan kananku ke depan dan menggerak-gerakkan jemariku. Meminta sebuah mobil bak untuk berhenti.
            “Balai desa, Pak?” memiringkin posisiku ke arah jendela mobilnya.
            “Naiklah.” Kepalanya menunjuk ke arah belakang. Tak membuang-buang waktu lagi, langsung saja aku naik. Berbincang sedikit dengan Bapak itu. Tak lama kemudian, aku turun di depan pagar balai desa.
            “Terima kasih banyak, Pak.” Kutunudukkan kepalaku sebagai penghormatan dan ucapan terima kasih. Memasuki balai desa. Sudah ramai pegawai di sana. Melihat ke arah jarum jam, menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh.
            “Alhamdulillah, tidak terlambat.” Meletakkan tasku di atas meja. Mulai menghidupkan komputer. Terdengar lagi celotehan yang baru saja dibicarakan oleh ibu-ibu pembeli sayur Mang Iin tadi.
            “Dika yang anak mantan lurah itu loh! Dia berteriak-teriak. Tertawa sendiri sambil memegang sebilah tongkat bambu.” Matanya menjelit seram.
            “Kamu percaya tidak, Rama?” pertanyaan itu terlontar kepadaku dari Mbak Lisa. Seniorku.
            “Iya, kamu kan pintar agama, Rama. Ajari kami toh. Apalagi hal ini telah geger dimana-mana.” Timpal Mbak Rika.
            “Ah, Mbak ini bisa saja. Kalau saya sendiri baru tahu kabar ini. Sebaiknya kita selidiki dulu sebelum percaya kan, Mbak? Mungkin saja ada sebabnya mengapa Dika seperti itu.” Ujarku sambil membuka sebuah map besar. Berat sekali. Buk. Debu berterbangan kemana-mana.
            “Tapi, Dika sendiri yang bilang kalau dia itu Raja. Dia tinggal di kerajaan besar. Banyak permaisuri disana.” Menunjukkan jari telunjuknya.
            “Sananya itu dimana, Mbak? Hem, kalau saya sih tidak percaya sebelum saya melihat sendiri.” Ucap Pak Tomo. Agak angkuh nadanya. Membuat mimik Mbak Lisa dan juga Mbak Rika menjadi berubah.
            “Ih, siapa coba yang ngajak ngomong dia. Sombong sekali. Kalu sudah kualat, baru tahu rasa dia.” Ucap Mbak Rika kesal sambil berbisik kepada Mbak Lisa.
            “Biarlah, Mbak. Kita diciptakan Tuhan dengan dua telinga untuk mendengar dan sepasang bibir untuk mengucap. Jadi mengapa tak digunakan?” keadaan semakin memanas. Ternyata Pak Tomo mendengar bisikan Mbak Rika. Mereka hanya diam tak keenakan.
            Tak lama kemudian ada seorang wanita tua. Dia warga yang pertama datang ke balai desa hari ini. “Permisi.” Ucapnya sambil merunduk.
            “Ada yang bisa kami bantu, Bu?” jawab Pak Tomo mendahului pegawai-pegawai yang lain.
            “Mau perpanjang KTP. Ada Mas Rama?” matanya celingak-celinguk ke kiri dan kanan mencariku.
            “Saya, Bu.” Mulai saja kubantu Ibu tua itu. Berjalan mendengkluk sekali.
            “Kurang lebih seminggu lagi, ibu bisa mengambil kartu tanda penduduk yang baru.” Memberikan lampirannya.
            “Terima kasih.” Mendorong kursinya ke belakang. Berpapasan dengan seorang bapak-bapak. Mungkin kerabatnya. Begitu akrab dia berbincang di depan pintu balai. “Pak Sardika hendak mengurus apa kemari?”
            “Ini, KTP.” Menunjukkan sehelai kertas kaku di tangannya. Nampaknya banyak warga desa yang telah habis masa KTPnya.
            “Itu, Pak. Dengan pegawai yang namanaya Rama saja. Lebih cepat, tidak mahal pula.” Menunjukku. Mata Pak Tomo semakin menjelitiku. Seperti kesal sekali.
            “Oh, terima kasih. Mari.” Bapak itu memasuki ruangan balai dan menghampiri mejaku yang bertuliskan ‘Rama Sudiratno’. Sepertinya, tugasku bakala menumpuk hari ini. Semoga saja, agar semangat bekerjaku semakin bertambah.
            Tak terasa sudah pukul dua belas. Waktunya makan siang. Berjalan ke arah kedai makanan yang sudah menjadi langganan selama seminggu ini. Ramai oleh pegawai yang lain. Berdominan wanita.
            “Merinding mendengar ceritanya Mbak Rika. Apa benar, anak mantan lurah kita di ajak ke kaki gunung?” celotehan ketiga kali tentang Dika, anak mantan lurah. Lama-kelamaan fikiran itu juga mulai terbayang di benakku.
            “Gunung mana sih? Gunung sampah yang tak pernah dibakar itu atau memang Gunung Merapi?” ujar Mike, pegawai baru.
            “Ya Merapilah. Masak gunung sampah itu. Lagian sampah itu sudah dikeruk lusa kemarin. Tidak menggunung lagi.”
            “Oh, maklum. Saya jarang melalui jalan itu lagi.” Menghentikan pembicaraannya sejenak untuk mengambil pentol bakso dari mangkuknya.
            “Mas ini hendak memesan apa toh?” Tanya pemilik kedai.
            “Saya bakso saja semangkuk dengan es teh , Bu.”
            “Baik.” Menaruh lap tangan ke pundaknya.
            “Memang, siapa yang mengajak si Dika itu?” meneruskan perbincangannya setelah melahap satu pentol baksonya.
            “Entahlah. Tapi ada yang bilang, Dika menikuti suara seohrang wanita.”
            “Ini, Mas.”
            “Terima kasih, Bu.” Tunggu apa lagi? Langsung saja kuaduk campuran kuah dengan sambal dan kecap. Mulai menyantapnya tanpa mendengarkan celotehan tentang si Dika, anak mantan lurah itu.
            “Srrruuuupppp. Alhamdulillah. Berapa, Bu?” meninggalkan kursi plastik.
            “Tiga ribu. Empat ribu.” Menghitung-hitung.
            “Berapa, Bu?” kuulangi sekali lagi. Masih belum jelas hasil penghitungannya.
            “Empat ribu.” Menuju ke balai desa.
            Lelahnya hari ini. Bersantai sejenak setelah shalat ‘isya. Belum kututp jendela. Masih memberikan kesempatan bagi udara untuk bersirkulasi. Malam ini, desa terasa sepi dan sunyi sekali. Lampu-lampu jalan sudah mati. Yang ada hanya lampu templok yang dipasang di setiap pintu rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Pagar kayu setinggi satu meter pun sudah tertutup rapat. Hanya bilik bambuku saja yang jendelanya masih terbuka. Menatap langit yang tak satupun dihiasi bintang. Benar-benar kelam malam ini.
Menatap langit sambil berbaring di atas sehelai tikar dengan sarong baralur lurik yang menyelimuti tubuhku. Angin menerpa pintu jendela yang terbuat dari kayu serut. Ngiiiik. Mengilukan sekali bunyinya. Cukup kencang dan merasuk hingga ke tulang. Kuusap lenganku. Terasa bulu roma berdiri semua. Menimpa dengan kepala kedua tanganku yang kugunakan sebagai bantal. Sekilas teringat lagi tiga kali celotehan tentang Dika. Apa iya ajakan itu memang benar? Percaya tak percaya.
“Tolong! Tolong!” tiba-tiba suara seorang wanita yang menjerit meminta tolong membangkitkanku dari posisi berbaring. Langsung kubuka pintu rumahku dan berlari ke arah suara itu berasal.
“Siapa disana?” mataku melirik ke jalan setapak penuh ilalang. Masih belum kutemukan wanita itu.
“Tolong! Tolong saya. Saya disini.” Makin dekat saja suara itu. Penasaran menggentayangiku. Kususuri jalan setapak itu. Dengan sangat hati-hati kuinjak ilalang yang sangat tinggi. Tiba-tibu, bruk. Aku masuk dalam sebuah lubang dalam. Banyak bidadari disana. Ada sebuah istana megah. Dan aku duduk di singgasananya. Memakai mahkota dan sebuah tongkat. Akulah Raja. Namun sesaat kusadari. “Astaghfirullahal ‘adzim.” Mata hatiku terbuka. Ini bukan istana, tapi ini goa. Gelap sekali. Rasa takut pun menghantuiku. Tongkat dan mahkotaku ternyata hanya lilitan ular. Kulepaskan ia dari tubuhku. Lidahnya menjulur. Ada sosok wanita berjubah putih.
“Siapa kamu?” kudekati orang itu dengan mengucap istighfar tiada henti. Melangkah takut-takut. Kutepak pipiku. Semakin jelas wanita itu. Rambutnya hitam panjang dan berbalik ke belakang. “Maaf, Mbak ini siapa?” tanyaku sekali lagi. Bulu roma serasa berdiri tegak bagai antena.
“Tolong saya. Saya adalah korban tabrak lari oleh seorang pemuda. Dia menabrak saya tanpa bertanggung jawab.” Ia menangis. Masih enggan memperlihatkan wajahnya.
“Siapa nama pemuda itu?” tanyaku sambil mendekatinya lagi. Lebih dekat lagi.
“Pemuda itu bernama Dika. Dia membuang saya di tepi sungai kecil. Tolong saya.” Wanita itu menghilang.
“Rama! Rama!” teriakkan warga semakin membuka mata hatiku.
“Tadi kau melihatnya kesini atau hanya bayanganmu saja, Rio?” bentak seorang Bapak.
“Saya tidak bohong, Pak. Saya melihat Rama ke arah sini.”
“Saya disini!” teriakku dari bawah mereka. Membuat lingkaran dari jemari, agar suara dapat tertuju ke mereka dan tak terbawa angin malam.
“Itu Rama.” Rio menunjukku. “Hendak apa kamu disana, Rama. Ayo naik, Ram.” Mengulurkan tangannya. Kugenggam tangannya. Menaikki tanah terjal dengan sela-sela lubang. Berhasil juga sampai ke atas.
“Mari bawa dia ke rumah saya.” Ujar Pak Gono. Ketua RT setempat. Rombongan warga itupun kembali ke rumah Pak RT. Disuguhkan segelas air tawar. Menyuruhku untuk meminumnya.
“Apa yang Nak Rama lakukan di bawah sana?” kakinya bersila rapi. Menanyakanku dengan tenang.
“Sebelumnya, saya hendak meminta maaf kepada bapak-bapak. Saya telah mengganggu malam tenang bapak. Tadi setelah selesai shalat ‘isya, saya mendengar seorang wanita meminta tolong. Saya ikuti asal suara itu. Sampai akhirnya saya ikuti sampai ke dalam kebun milik Pak Amo. Dan saya masuk ke suah lubang. Saya melihat ada istana megah disana. Banyak bidadari. Dan saya duduk disinggahsananya memakai sebuah mahkota dan tongkat. Namun, Allah masih mengizinkan saya untuk sadar bahwa itu hanya efek dari fikiran saya yang sedang kosong. Istana itu adalah goa, dan mahkota serta tongkat itu adalah lilitan ular. Setelah itu..” pembicaraanku terhenti.
“Nak Rama, kamu ini anak yang dipandang di kampung ini. Dari Ayah hingga Ibumu, mereka adalah orang terpandang. Jangan kau coreng nama mereka dengan khayalan belakamu.” Cetus Pak Amo.
“Saya tidak bohong, Pak Amo. Ini sungguh benar adanya. Setelah itu, saya lihat ada seorang wanita yang tadi memminta tolong. Saya dekati wanita itu. Bertanya apa yang bisa saya bantu. Dia menjawab, bahwa dia adalah korban tabrak lari dari Dika, anak mantan lurah. Dia meminta tolong untuk dikuburkan jasadnya yang dibuang oleh Dika di tepi sungai.” Langsung saja kuselesaikan kalimatku agar tak ada kesalahpahaman lagi.
“Baiklah, keterangan ini saya terima. Besok pagi diharapkan bapap-bapak sekalian turut membantu penguburan wanita itu jika memang benar adanya. Tetapi jika tidak ada bukti tentang keterangan Nak Rama, maka Nak Rama harus menerima hukuman. Sekarang semuanya boleh bubar.” Satu per satu warga keluar dari pekarangan rumah Pak Gino. Mengangkat sarungnya tinggi-tinggi.
“Apa benar apa yang dikatakan oleh Rama? Apa dia stress sebab ilmu agamanya terlalu tinggi?” lagi-lagi celotehan yang belum percaya sampai ke telingaku. Tak kuhiraukan mereka. Mataku pun sudah ngantuk. Berjalan tegap ke rumah, mengunci pintu dan jendela. Menarik sarung dan mulai memejamkan mata. Sedikit tak menyangka, bahwa celotehan pegawai balai tadi kualami.
Dur.. dur.. dur.. “Rama! Assalamu’alaikum, Rama!” rasanya hanya sekejap kupejamkan mata. Ternyata pagi telah menyambut. Termasuk warga.
“Wa’alaikum salam.”
“Mari kita ke tepi sungai untuk membuktikan omonganmu.”
“Baiklah. Silakan tunggu sebentar.” Mandi sebentar dan langsung berangkat ke tepian sungai. Ada yang membawa arit, parang dan perkakas tajam lainnya. Bersiap untuk menebang alang-alang tinggi.
“Mana, Rama? Wanita yang kau sebutkan!” dari semalam Pak Amo sangat tidak senang dengan pernyataanku. Aku hanya diam. Baru sadar mengapa langsung percaya dengan kejadian itu.
“Astaghfirullahal ‘adzim!” jerit Rio.
“Ada apa kau ini, Rio? Awak lelaki, tapi penakut.” Emosinya semakin tinggi. Semua warga menuju tunjukkan jari Rio.
“Ada mayat wanita, Pak.”
“Bawa dia. Ayo cepat.” Termasuk diriku. Langsung membawanya ke langgar. Sepertinya bukan gadis dari desa kami. Pagi itu langsung di kubur. Terasa lega diriku. Karena apa yang kubicarakan dapat dipertanggung jawabkan.
“Nak Rama, Bapak selaku RT di desa ini, ingin berterima kasih serta meminta maaf atas tuduhan yang telah dilontarkan. Sekali lagi, terima kasih.”
“Sama-sama, Pak.”
“Terima kasih, Rama.” Tiba-tiba saja ada bisikkan di telinga kiriku. Membuat bulu roma kembali tegak.

S E L E S A I















Senin, 30 Juli 2012

TENAGA PENDIDIK SMANTI PART 1

Sekolah kebanggaan kami, haha lebay. kalau ditanya soal jumlah tenaga pendidik, aku belum tahu pasti jumlahnya berapa, termasuk yang staff TU dan staff lainnya. tapi masih tetap semangat buat ngepost tentang guru-gurunya. Go!!

leader of SMANTI adalah Bapak Karwono. saat tes wawancara atau bahasa lainnya interview, Bapak Karwono selaku kepala sekolah mewawancarai langsung calon siswanya di bidang motivasi. yang ditanyakan adalah alasan masuk smanti, dukungan dari diri sendiri serta keluarga, pilihan mengapa tidak memilih sekolah lain dan sebagainya. dalam wawancara bersama Pak Kar, saya sering tertawa oleh candaannya. rata-rata setiap siswa takut dengan kepala sekolah dengan alasan kepala sekolah itu tegas dan galak. namun berbeda dengan yang satu ini, Pak Kar itu peuh wibawa, tegas, tapi humoris. kalau udah diajarin sama Pak Kar pelajaran langsung masuk meski sesulit apapun. terkhusus ekonomi

next Bapak Wagio. wakil di bagian kesiswaan serta guru bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. kalau dilihat dari keseharian di sekolah, Pak Wagio itu orang yang penuh dengan ketenangan, sabar, yah pokoknya  ibarat peribahasa itu semakin berisi padi semakin merunduk. di balik kependiamannya seribu ide tersimpan di balik itu semua. sejauh ini bertemu dengan Pak Wagio di perkumpulan, belum pernah bertemu saat materi atau kegiatan pembelajaran, sebab untuk kelas sepuluh guru bahasanya adalah mam wid.

next Sir Alen Aliska. Atau sering disapa Sir Alen. terkenal dengan ilmu dan wawasannya yang luas. terkadang aku tidak mengerti dengan pernyataan yang ia buat, namun setelah di pahami it's wonderfull. contoh, Sir Alen pernah bilang seperti ini saat materi KIR. "Kalau orang cerdas itu mengarah kepada dua hal, ilmu dan wawasan. maka mau dibawa kemanapun orang itu jika ia memiliki ilmu dan wawasan ia akan lolos. pada orang yang cerdas isi otak dan kepalanya itu penuh dengan tanda tanya dan bintang-bintang yang mengelilingi pemikirannya". dari sini aku mulai gak ngerti. biasanya kalau bintang bintang itu kan ....??? "maka      pertanyaan dan bintang-bintang itu akan terjawab satu per satu memenuhi dan mengisi kapasitas otak secara padat dan timbullah bintang yang bersinar yang meunujukkan kecerdasannya." kami bertepuk ria atas penjelasan akhirnya. dari situ aku mulai terpacu oleh masukkan Sir Alen sampai sekarang dan seterusnya. semoga kecerdasan Sir Alen bisa menjadi warisan untukku. huehehe

lanjut, Pak Abdul Hadi. guru matematika. guru yang mendapatkan predikat guru terapi dan ramah. seperti Bapak Wagio, pak abdul hadi ini tenang sekali kalau di lihat.

Bapak Suharman, guru agama islam. beliau memotivasi kami untuk bangga memiliki nama. dengan contoh namanya SUHARMAN : SUami HARus MANtap. dan masih banyak arti dari singkatan namanya yang terlupa, habis banyak banget.



sampe sini dulu ya, aku ngantuk. sampai bertemu di lain kesempatan. see you next time :)

Minggu, 29 Juli 2012

Google Adsens


Google Adsense adalah sebuah program PPC yang di tawarkan Google bagi para pemilik blog atau website untuk menampilkan iklan yang relevan terhadap blog atau website tersebut dan pemilik blog atau website akan mendapatkan bayaran dari Google untuk setiap iklan yang di click oleh pengunjung. Sebagai tambahan informasi dulu daftar Google Adsense harus menggunakan blog atau website yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa utama, tetapi sekarang blog atau website berbahasa Indonesia pun bisa didaftarkan. Jika kita rajin dalam menekuninya maka ini akan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, bahkan ada beberapa publisher adsenseIndonesia (publisher: sebutan bagi para pemilik blog atau website yang menayangkan iklan Adsense) yang bisa memperoleh ribuan dollar dalam sebulan dari Program ini.


Cara mendaftar
 

Miliki akun Google dan buatlah blog di blogger/blogspot.
Pertama anda harus memiliki akun Google, kemudian buatlah blog atau website yang berisi konten tertentu yang menurut anda menarik untuk dibahas, saya menyarankan gunakan blogger/blogspot, karena sebagai salah satu produk Google akan mempunyai nilai tambah dan pertimbangan khusus dalam proses pendaftaran akun Adsense.

Posting dengan konten original dan berkualitas.
Buatlah posting secara berkala, kalau bisa setiap hari, Google sangat menyukai posting baru yang original dan berkualitas tidak sekedar copas, boleh dengan menggunakan bahasa Indonesia karena sekarang Google Adsense sudah support Adsense bahasa Indonesia, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Setelah posting yang lumayan banyak, minimal 8 sampai 10 postingan blog anda sudah siap untuk didaftarkan pada program Google Adsense.

Daftar Google Adsense
Cara mendaftar Google Adsense bisa langsung dari blog, kalo anda menggunakan blogger/blogspot melalui dashboard blogspot cari tab monetize. Atau bisa juga langsung mengunjungi halaman Google Adsense click DAFTAR SEKARANG di pojok kanan atas, ikuti petunjuk dan masukan alamat URL blog yang baru saja anda buat, misalnyahttp://ubalinwebblog.blogspot.com. Isi kolom data pribadi anda dengan indentitas asli karena data inilah yang akan dipakai Google dalam pembayaran penghasilan Adsense anda. Setelah proses pengajuan selesai tunggu 48 jam maka anda akan diberitahu melalui e-mail bahwa pengajuan akun Adsense anda diterima atau ditolak. Lebih jelasnya silakan kunjungi halaman AdSense Bantuan.

Dengan memiliki akun Google Adsense anda bisa mulai memperoleh penghasilan tambahan melalui Internet sehingga bisa membantu manambah income keluarga. Selanjutnya anda tinggal me-maintain blog anda supaya mendapatkan traffic/pengunjung dengan cara melakukan Search Engine Optimization atau biasa disebut SEO agar blog anda bisa tampil di halaman pertama SERP (Search Engine Result Page). Selamat mencoba, semoga artikel ini bermanfaat.

ceritanya udah masuk yang ketiga nih.. jangan bosen-bosen ya...!!


Masa Yang Takkan Terlupakan
       

Saat itu, Erika ingin pergi liburan ke Jakarta.Ia pergi bersama keluarganya. Di Jakarta banyak saudara-saudaranya. Ia segera pergi ke Bandara. Selama empat puluh lima menit berada diatas, Erika pun sampai di Jakarta. Sesampainya di rumah saudara, Erika pun mandi dan segera istirahat. Setelah sehari terlewatkan, Erika pun bermain bersama saudaranya. Lalu ia berekreasi ke Taman Bunga. Sesampainya di Taman Bunga, ia memetik semua  bunga yang ada di sekelilingnya. Karena terlalu lama memetik bunga, ia pun  merasa lelah dan lapar. Lalu ia dan keluarganya pun makan dengan penuh kebersamaan. Tanpa mereka sadari, hari sudah gelap. Ia pun bergegas pulang ke rumah. Setelah mereka mandi, mereka pun menonton televisi bersama. Erika pun tidur dengan nyenyaknya. Matahari pun terbit dari ufuk timur. Tak terasa sudah dua minggu di Jakarta, Erika pun harus pulang meninggalkan orang yang disayanginya. Berat rasanya untuk meninggalkan mereka. Erika pun tak bisa menahan rasa sedihnya itu. Akhirnya ia menangis, seakan hidup tak berdaya lagi. Banyak kenangan yang ada pada masa itu.
                                                                                                                                      Karya : Itsmi Annisa Putri

INi cerpennya Uthi (adikku) yang kedua. happy enjoyed


Kasih Sayang Seorang Ibu

                   Yani adalah seorang ibu yang baik, penyayang dan pekerja keras. Ia tinggal bersama anaknya yang bernama Rita. Mereka hanya tinggal berdua di rumah yang sederhana. Karena ayahnya sudah lama meninggal. Setiap hari, mereka  makan dengan seadanya. Tetapi mereka tetap bersyukur menerima semua yang ada. Semenjak suaminya meninggal, Yani bekerja sebagai kuli cuci.Penghasilannya sebulan saja tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.Tetapi mereka tetap bersyukur. Rita bersyukur sekali mempunyai ibu seperti Yani. Karena Yani sangat menyayanginya. Setelah bersenang – senang bersama anaknya, Yani menderita penyakit Kanker Rahim Stadium tiga. Tetapi Yani, tidak mau bilang pada Rita. Karena ia tidak sanggup melihat Rita yang sangat terpuruk dengan keadaan seperti ini. Setelah pulang sekolah, Rita bilang, bahwa gurunya meminta uang  SPP. Karena Rita belum membayarnya selama satu bulan.Yani pun mencari pinjaman uang kesana kemari tetapi tidak ada yang meminjamkannya.Rita pun diberi izin sehari untuk membayarnya. Setelah pulang sekolah, Rita kebingungan mencari ibunya. Ternyata, ibunya pergi ke Rumah Sakit karena penyakitnya kambuh. Rita pun segera bergegas ke Rumah Sakit. Sesampainya di Rumah Sakit, Yani telah tiada. Lalu dokter menjelaskan penyakit yang selama ini di derita Yani kepada Rita. Rita mendengarkan sambil menahan air mata.  Sejak saat itulah Rita berhenti sekolah dan harus tinggal sendiri karena ia tidak mempunyai keluarga.
                                                                                                                                                Karya : Itsmi Annisa Putri

Kisah Persahabatan


Ini cerpen buatan adikku yang pertama. kalau masih salah-salah harap maklum ya. dia masih belajar. Hihihi...


Kisah Persahabatan
Pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang bernama Diana.                          Didekat rumahnya ada dua anak seumurannya. Namanya Tika dan Nina. Pada waktu itu Diana tidak bermain dengan mereka. Tetapi salah satu dari mereka ada yang mengajak Diana untuk bermain dengan mereka yaitu Tika. Sejak saat itu, Diana bermain dengan mereka.Mereka melakukan kegiatan sehari-hari dengan penuh  kebersamaan. Seperti mengaji, bermain, dan belajar. Tetapi waktu itu,diantara mereka bertiga, ada kesalahpahaman. Tetapi setelah dua hari kemudian, ia saling bermaafan. Selama sekitar tiga bulan bermain bersama, mereka harus berpisah.Karena diantara mereka, ada yang ingin pindah ke Pulau Sumatera yaitu Diana.Betapa sedihnya mereka. Selama setahun berpisah, mereka bertemu lagi. Mereka melepas rasa rindunya dengan saling berpelukan. Pada saat itulah masa yang paling tak kan terlupakan. Setelah dua minggu terlewat, Diana harus meninggalkan dua orang sahabatnya. Tetapi, Diana berpesan kepada dua orang sahabatnya agar tidak melupakannya.
                                 
                                                          Karya :Itsmi Annisa Putri

NYESEL PESANTREN RAMADHAN

masih dengan judul ini, baru aja lusa kemarin ngepos tentang sekolah ini. eh kemarinnya udah nyesel. ceritanya gini, hari sabtu kemarin ada kegiatan pesantren ramadhan, ada lomba adzan sama ngaji. aku ikut ngaji, gak tau dah tuh menang apa kagak. di sela-sela acara kami aku merasa nyesel buanget. waktu sebelum berangkat pikiran mau bawa hape kamera tapi gak jadi. benerg banget, persembahan dari setiap kelas oke and keren banget. jadi gak bisa sama sekali gak bisa mengabadikan momentum yang pokoknya kalo kata pak tukul emaizing. alunan dan lantunanannya bikin terbuai, mata yang tadinya ngantuk bangun jam tiga untuk sahur sampe siang nggak tidur jadi seger buger denger dan lihat persembahan kawan dan kakak kelas.
yang gak abis fikir, setahu aku sekolah sekolah yang lain baik teka, esde, esempe atau esema yang lain kalo ngedekor pasti guru dan ahli ikut campur tangan dalam pembuatannya, tapi yang satu ini murni asli dan original buatan tangan-tangan mereka yang kreativitasnya gak ada batas. dengan modal yang gak seberapa tapi jadinya wokeh. yang paling aku suka waktu class meeting tata panggung dan air mancurnya yang terbuat dari bambu itu mengalirkan air serta hanya menggunakan ilalang sebagai penghiasnya. alhasil tak kalah menakjubkan.
di sisi lain, alunan itu bikin aku sadar lain kali bawa hape kamera kalau ada acara lagi, biar gak nyesel kek gini.
  sekali lagi, bagi kamu-kamu-kamu dan kamu si para pelajar yang lagi nyari referensi buat masuk sekolah lanjutan dari SMP, patut, kudu dan nyesel kalo gak cari tau tentang sekolah yang satu ini.... :)))